| Monday, March 31, 2008 |
| ASKETEISME |
Oleh:Wahyu Pena
Dalam duniat tasawuf ada salah satu istilah yang sangat familiar dalam gendang telinga. Istilah tersebut adalah istilah asketeisme. Asketeisme adalah salah satu cara untuk mencapai ma'rifatullah. Asketeisme adalah salah satu piranti penting dalam mujahadatu al-nafsi manusia untuk menghindarkan diri dari keterperosokan yang lebih jauh pada hal-hal yang berbau keduniaan.
Istilah asketeisme sebenarnya bukan istilah baru dan muncul dari Islam. Istilah asketeisme adalah sebuah istilah yang sudah ada dan sering dilakukan oleh para penganut agama terdahulu. Asketeisme, yang dalam Islam disebut dengan zuhud, adalah manifestasi laku yang dilakukan seseorang sebagai upaya menggapai cintanya. Jika dirunut lebih jauh lagi, sebenarnya laku asketeisme ini lebih banyak diselenggarakan oleh para agamawan dari agama Budha dan para agamawan dari agama Hindu. Asketeisme adalah laku prihatin untuk mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa. Para pendeta pada agama-agama terdahulu, yang mendalami dunia asketeisme, lebih banyak menghabiskan kehidupannya untuk beribadah dan menjadi pelayan masyarakat. Tak sedikit dari mereka, setelah sekian lama mendalami asketeisme, mencapai tingkatan weruh sak durunge winarah. Mereka tahu sebelum sesuatu itu terjadi melalui pembacaan pada tanda-tanda yang mereka lihat menggunakan kejernihan hati yang putih bersih murni dari segala macam kotoran dunia yang penuh angkara murka.
Dalam menjalankan ritual asketeisme ini, diantara mereka ada yang bertapa pada tempat-tempat tertentu, puasa-puasa dan lain-lain. Sejalan dengan kelindan waktu yang terus menggelinding, kemudia muncul pemahaman yang salah dengan menganggap bahwa asketeisme adalah sama sekali meninggalkan dunia dan hanya memikirkan akhirat. Tak salah bila keudian mereka berlebihan dari menjauhkan dunia. Menganggap dunia adalah barang najis yang mengotori mata rantai kehidupan dan akan semakin menjauhkan diri dari Sang Hyang Widhi Wisesa. Sebuah anggapan tak berdasar dan salah kaprah.
Memang, dalam memahami asketeisme, sering sekali ada sebuah pemahaman yang keliru dan melenceng dari makna sebenarnya. Hal ini dikarenakan kurangnya literature yang digunakan sebagai medium pemahamannya. Atau, bisa saja ketidakpahaman dan kesalahan mengartikan asketeisme ini bermula dari pembacaan yang sempit dan hanya mengandalkan pembacaan pada buku-buku tanpa merelease langsung kepada orang yang suka laku dan mendalami dunia asketeisme. Ataupun jika mendasarkan pengetahuan pada orang yang mendalami dunia asketeisme, mungkin orang yang salah.
Menurut Imam al-Jurjani, asketeisme secara etimolgi berarti tidak condong pada sesuatu atau tidak begitu mencintai sesuatu. Tidak bangga dengan apa yang didapatkan dan tidak bersedih ketika kehilangan. Sementara secara terminologi, menurut Abu Bakar Al-Razi, asketeisme bermakna meninggalkan aroma dunia untuk menggapai aroma akhirat. Lebih jelasnya lagi, mengosongkan hati dari kecintaan dan kebencian terhadap apa-apa yang ada dalam genggaman. Definisi secara terminolgi yang tak jauh beda juga diungkapkan oleh Imam Junaid, ia mendefinisikan asketeisme dengan membersihkan hati dari piranti dunia.
Dari definisi ini jelaslah bahwa asketeisme tidak berarti meninggalkan dunia sama sekali. Ia hanyalah permasalahan hati yang tidak terlalu sibuk dengan tetek bengek yang berbau dunia. Dunia tidak menjadikannya silau. Ia mengambil dunia secukupnya sebagai bekal untuk beribadah. Tidak lebih. Ia tidak mengajarkan berlibih-lebihan dalam menyikapi dunia.
Dari sini semakin jelas bahwa asketeisme bukan bermakna menjauhkan dan menghindarkan diri dari dunia sama sekali. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang mengatakan, (لكيلا تأسوا على ما فاتكم ولا تفرحوا بما ءاتكم) yang artinya, "Supaya kamu tidak sedih terhadap apa yang hilang dari kamu dan agar kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikannya kepadamu, (QS. Al-Hadid, ayat 23). Dari ayat ini kita dapat mengambil 'ibrah bahwa asketeisme mengajarkan keseimbangan dalam menyikapi dunia. Tidak berat sebelah. Tidak senang dengan dunia juga tidak benci dengan dunia. Karena kecondongan kepada salah satu diantara rasa senang dan benci akan mendorong seseorang larut terjerumus mengikuti arus pusara perputaran dunia dan akan lupa dengan akhirat.
Pola penyikapan yang seimbang ini, tidak meninggalkan keduniaan sama sekali dan tidak meninggalkan akhirat sama sekali, juga sesuai dengan firman Allah dalam ayat lain yang mengatakan, (واتغ فيما ءاتك الله الدار الأخرة ولاتنس نصيبك من الدنيا), artinya, "Dan carilah apa-apa yang telah dianugerahkan kepadamu untuk kepentingan akhirat akan tetapi jangan lupakan bagianmu dari kenikmatan dunia, (QS. Al-Qashas, ayat 77).
Asketeisme, meski lebih cenderung didengungkan oleh kalangan asketik, tapi bukan berarti asketeisme menjadi laku yang boleh dan hanya dilakukan oleh mereka yang mendalami dunia tasawuf. Ia adalah laku umum dan boleh dilakukan oleh mukmin mana saja. Karena bagaimanapun, nilai dan sandaran laku asketeisme bersumber dari al-Qur'an. Jangan pernah sampai pada simpulan bahwa asketeisme hanya milik kelompok Islam tertentu.Labels: artikel |
posted by wahyu pena @ 1:14 PM  |
|
|
|
|
| About Me |
|

Name: wahyu pena
Home: Bayuwangi, East Java, Indonesia
About Me: Manusia yang berdiri diatas kaki sendiri, menerima pekerjaan sesuai dengan kemampuan, hirau dengan sekitar, tidak ego, suka kerja-kerja yang rapi, dan tidak terlalu suka bergantung kepada orang lain. Aku orangnya welcome kepada siapa saja, asal tidak mendoktrin.
See my complete profile
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
| Shoutbox |
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
| Links |
|
|
| Links |
|
|
| Powered by |

|
|