| Saturday, December 8, 2007 |
| Mozaik Cita, Cinta, dan Kematian |
Oleh; Wahyu Pena
"Pras, yang paling jauh dengan kita di dunia ini adalah masa lampau karena tidak ada kendaraan yang bisa menyampaikan kita kesana, dan yang paling dekat dengan kita di dunia ini adalah mati karena itu pasti." Kata Yasmine dulu, ketika kita pulang sekolah.
Kini, yang berkelebat hanya kenangan silam datang silih berganti mengungkit kisah lama, mengangkat secarik cerita diatas kursi tua sandaran masa lalu. Aku dan kamu, sepasang merpati di awan nan biru menyusur impian.Cinta kita lahir tak terucap, indah tak terpandang. Cinta kita diam tapi berbicara. Hanya kita yang tahu dalam mana rasa itu. Kita bersisian menambat, mengarungi bahtera waktu pada tepian masa berpadu satu. Tak pernah ada yang mampu membelenggu asmara memburu, dan orang-orang hanya mampu menatap tergugu melihat untaian perjalanan cinta kita melaju. Ada yang marah, ada yang benci, ada yang kesal, jengkel dan menatap sinis. Tapi ada juga yang rela dan bahagia, tentunya sedikit, karena mereka tahu siapa kita dan kemana kita akan menambatkan perahu. Namun semua itu dulu, sebuah kisah pada zaman yang telah berlalu meninggalkan getir pada luka membiru, zaman penuh rancu syahdu permainan waktu tempo dulu, dan sesungguhnya kita tak tahu sebenarnya apa yang berlaku.
@@@
Setakat kata dari bibir meloncat, setelah akhirnya dial-dial nomer telpon kupencet. "Halo….Asalamu'alakum…?" "Halo juga…Wa'alaikumsalam…" "Apa kabar Yasmine?" "Hamdulillah baik, kamu?" Ia balik bertanya. "Sama, hamdulillah." Dari kejauhan suara Yasmine terdengar menjawab salamku. Ya, aku suka memanggilnya Yasmine meski nama sebenarnya adalah Maharani, kembaran Maharana. Ia lahir 9 oktober 1983 yang lalu, Ahad kliwon pagi di sebuah pedalaman desa Rambi Agung, Kecamatan Yosowilangun. Desa yang tenang dan dihuni oleh kebanyakan masyarakat Hindu, bagian pojok kepulauan jawa. Tak salah bila namanya berbau sangkerta, bahasa yang banyak digunakan para pemeluk Hindu dan berasal dari India. Namun, meski sudah masuk Islam namanya tetap tidak dirubah, melestarikan dan membudayakan bahasa sangsekerta dan menjaga budaya, katanya. Ia memang tidak seperti kebanyakan muslimah lain, walaupun muslim tidak suka dengan simbol-simbol islami. Ia lebih mementingkan pelaksanaan nilai islami ketimbang hanya sekedar memakai simbol nilai islaminya. Nama salah satunya.
"Ada apa, Pras? Pagi-pagi kok sudah nelpon, tumben." Dia bertanya padaku. Oya, namaku Pras, tepatnya Waluyo Eko Prasetyo, biasa dipanggil Pras. Aku lahir di daerah yang sama dengan dia. Adat dan kebudayaanyapun juga sama. Aku dan dia sama-sama muallaf, tahu pencerahan Islam belum terlalu lama, sekitar empat tahun yang lalu, saat kami baru saja lulus dari Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Lepas SLTP, kami melanjutkan ke Madrasah aliyah Negeri sambil sama-kursus bahasa arab, ingin mengenal serta mendalami agama yang baru kami peluk. Ternyata belajar bahasa arab tidak terlalu sulit bagi kami, karena ketika SLTP kami pernah belajar dan sudah bisa bahasa asing lainya, inggris. Ini yang membuat kami tidak kesulitan memahami kaidah bahasa arab, sebab kaidahnya tidak terlalu berbeda, hanya rumus tenses saja yang menurut kami bedanya agak mencolok, bahasa arab hanya ada dua tenses, lampau dan sedang, sementara bahasa inggris ada enam belas. "Gak ada apa-apa kok, hanya ingin mastikan saja, kamu jadi berangkat apa enggak tahun ini?" "Ya jadilah, masak ga jadi sih, uda satu tahun lagi aku nuggunya. Aku udah ga sabar pengen cepat-cepat kuliah di al-azhar university, talaqi sama syaikh di masjid-masjid, pergi ke toko-toko buku memborong kitab-kitab islamiyah, menghabiskan liburan di maktabah-maktabah, membaca sepuasnya-puasnya. Kan, aku suka baca dan ngaji, tepat dong kalau aku ke Kairo, sana kan lumbungnya ilmu dan kiblatnya ilmu plus peradaban, iya kan?"
Nyaring suaranya masih seperti dulu, semangatnya menggebu. Kalau sudah bicara keinginan dan cita-cita, ia pasti yang mengalahkan aku. Bahkan rencana belajar ke negeri seribu menara ini dia yang mengutarakannya, dulu. Sayang, aku harus duluan berangkat mencari ilmu. Ia masih harus menunggu, setidaknya agar satu tahun biar berlalu. Sebab, dia harus menunggu sang ibu, menemani, dan menyiapkan segala sesuatunya bagi sang ibu. Ibunya mengidap penyakit paru-paru. Walau ada Maharana dan bapaknya yang bisa menggantikan serta mengerjakan tugas-tugas itu, tetap saja posisinya di mata sang bunda tercinta tak tergantikan. Makanya ibunya tak mengizinkan Maharani berangkat kesini tahun lalu. Selain uang biaya dia kesini harus dipakai untuk biaya pengobatan sang ibu. Dan dia rela ditunda keberangkatanya, demi sang ibu. "Iya iya, aku tahu keinginan dan cita-citamu." Kujawab gelegak tanya maharani sebagai ekpresi penghargaan atas semangatnya yang tak pernah luntur. Ia memang wanita hebat, meski hidup dalam kecukupan namun tabiat dan prilakunya tidak sombong dan tidak pernah memandang sebelah kepada teman-teman yang papa. Ia pribadi tak pandang bulu dalam bergaul, ia bisa diterima dimana-mana. Bahkan, setelah masuk Islam ia masih tetap dianggap oleh teman-teman Hindu kita dulu, itu tak lepas dari kepandaian dia dalam bergaul. Dia bisa menjalin keakraban dengan siapa saja meski berlainan keyakinan sekalipun.
Maharani, pribadi seorang gadis yang smart dan punya daya nalar tinggi. Saat kita masih SLTP dia sudah menguasai Weda dengan baik. Bahkan dalam usianya yang masih belia, kelas dua SLTP, ia suda paham dengan baik empat samhita dalam Weda. Dengan baik ia sudah melahap Regweda yang berisi 1028 nyanyian keagamaan atau himne dan terdiri dari 10.600 bait, samhita yang dianggap tertua diantara yang lainya oleh umat Hindu. Selain itu dia juga mampu memahami Samaweda yang beriskan kumpulan bunyi-bunyian untuk mengiringi nyanyian keagamaan dalam Regweda. Begitu pula Yajurweda yang mengandung kumpulan nyanyian keagamaan beserta tatacara uapacara-upacara kebaktian, ia sudah menguasainya pula. Bahkan ia juga sudah paham Atawaweda yang berisikan himpunan mantra-mantra, guna-guna, nyanyian-nyanyian perkawinan berikut nilai filosofis dan teologisnya.
Tidak sampai disitu, lingkungan keluarganya yang merupakan penganut taat Hindu itu tidak hanya menjadikan dia paham dengan baik kitab-kitab sruti, ia juga memahami kitab-kitab smriti semisal Brahmanas yang berisi tentang interpretasi ajaran-ajaran keagamaan yang terkandung dalam kodifikasi nyanyian Weda, Upanishad yang didalamnya terkandung pembahasan-pembahasan yang bersifat mistik dan filosofis tentang Brahman, kejadian alam semesta, diri, jiwa dan atman serta cara memulangkan atman ke dalam Brahman, dan juga Mahabarata yang berisi kisah usang tentang perang antara keluarga Bharata, Kurawa dan Pandawa, serta kitab-kitab lain. Hal yang sulit ditemukan pada diri remaja Hindu lain yang seusianya, termasuk pada diriku. "Cuma Pras...." nadanya tiba berubah agak sedikit iba dan aneh. "Cuma apa, Yasmine?" Selidikku ingin tahu gerangan apa yang mau ia sampaikan. "Ah gak kok, gak jadi deh." Sergahnya seolah ia menyembunyikan sesuatu dariku. "Tapi jadikan ke Kairo-nya?" Lagi, aku bertanya, meyakinkan bahwa ia akan berangkat tahun ini. "Don't worry boy, I'm coming to Cairo, kok. Sure. Tunggu aku disana ya!" seolah ia tahu kekhawatiran yang tersirat dalam tanyaku. "Tenang Pras, segalanya udah kelar kok, paspor uda selesai, visa sudah turun, begitu juga ishal. So, nothing should be worried, kan? He..he..he.." Ia meyakinkanku bahwa ia pasti datang. Senang sekali hati ini. "Ya bukannya khawatir, nada bicara kamu barusan lho kok kayaknya menyiratkan sesuatu. Kalau gak ada apa-apa ya syukurlah, artinya kamu bisa cepat berangkat apalagi semuanya udah kelar." Pagi itu kami membincang kenangan masa silam, menguntai cita-cita masa depan, membahas apa yang dilakukan ketika sudah selesai kelak, membuat rencana-rencana, saling tanya kabar dan lain-lain. Tak terasa waktu terus berlalu, uda seperempat jam kami ngobrol. Kuarahkan cursor mouse komputerku memencet tombol end now pada tampilan Yahoo Mesengger setelah kuucapkan salam penutup dialog. Ku bayar biaya telpon dan aku bergegas pergi. Aku lega, ia akan segera datang, tidak lama lagi.
@@@
Malam itu nuansa Kairo mendung. Dinginnya mengkerutkan pori-pori kulit, hembusan angin gurun menambah seluruh tubuhku menggigil. Kubetulkan selendang shell di leherku untuk mengusir dingin yang merambat. Kususuri trotoar pinggiran jalan menuju arah pulang. Kairo benar-benar dingin. Ini malam yang ke sekian kalinya aku menelpon Maharani, aku selalu menanyakan dan memastikan bahwa ia akan datang. Bahkan tiap bulan selama satu tahun aku selalu menelponnya, selepas beasiswa turun, awal bulan. Kita punya cita-cita besar. Kami ingin keluarga kami masuk Islam. Kami ingin mengajaknya pada naungan keyakinan seperti yang kami yakini. Kami ingin menjadi corong Islam, ingin menjadi agent of change dan pelopor pembaharuan keyakinan. Merubah gaya laten yang sudah turun temurun. Menghapus sesajen di tepi sawah menjelang panen. Mengganti nyanyian narayana dipucuk-pucuk speaker menjadi dendang sholawatan dan nyanyian puji-pujian islami. Kami juga ingin membuang tradisi kenduri dan selamatan yang sudah bertahun-tahun dalam ritual keagamaan sebagai ungkapan sukur kepada Sang Hyang Widi Wisesa menjadi sedekahan dengan untaian kalimah-kalimah thayibah. Dan kami yakin kami bisa, bahkan tidak terlalu sulit karena orang tua kami tidak terlalu hirau dengan perubahan keyakinan kami. Mereka memberi kebebasa memilih dalam beragama. Bahkan niatan melanjutkan sekolah ke luar negeri pun tidak dipermasalahkan. Para tetangga juga toleran, tidak mempermasalahkan kepindahan keyakinan kami. Itu semua tidak lepas dari ajaran Hindu yang tidak kenal sistem dakwah, bagi mereka keyakinan harus muncul dari nurani masing-masing. Selain itu, kita juga punya cinta besar. Meski semuanya tidak pernah terucap, namun kami sama-sama merasakan rasa yang sama dari setiap kesamaan laku dan tindak yang kami perbuat. Tepatnya sudah lama, dulu, bahkan sejak awal kami sama-sama masuk Islam dan meyakininya kuat-kuat. Kami memberi tanpa diminta, mengasihi tanpa pernah berharap.
Sampai di rumah kulepas jaket yang membungkus tubuhku, kugantung di gantungan samping lemari, begitu juga dengan shell merah kesayanganku, serta kaos tanganku. Aku bergegas ke dapur, menyeduh air panas, membuat teh untuk menghangatkan tubuh. Untuk beberapa saat setelah kompor menyala dan meletakan teko berisi penuh diatas kompor aku kembali ke kamar menghidupkan pemanas dan loncat-loncat menghilangkan dingin. Sesaat kemudian aku berkacak pinggang di depan cermin, menampar mukaku berkali-kali dengan tiga jari tanganku masing-masing. Lumayan, dingin sedikit hilang meski wajahku agak sakit. Teman-teman tidak ada yang tahu kelakuanku, mereka sudah terlelap. Maklum sudah jam tiga malam. Selang beberapa menit terdengar air sudah mendidih. Aku kembali ke dapur lagi, ambil gelas, tuangkan teh dan gula secukupnya serta air dari dalam teko.
Aku balik ke kamar bersama satu gelas teh. Aku duduk di tepi matras sambil menutupkan selimut tebal ke badan. "Yes, Aku akan menjemputmu Yasmine!" Kepalan tangan kanankuku kutarik dari atas kebawah didepan mukaku sebagai ekpresi kegembiraan. Maharani akan datang, sebentar lagi. Malam semakin larut dan dingin semakin menggigit, namun aura diwajahku menampakan kegembiraan. Lama-kelamaan tubuhku rebah di atas matras setelah satu gelas teh hangat habis tuntas kuseruput.
@@@
Musim dingin Kairo menyisahakan dingin berkepanjangan. Aku masih sibuk dengan duniaku. Berlayar di pulau kapas. Menggiring kenangan dalam sebuah cerita dunia mimpi. Tiba- tiba.....teteteteteteeetete.............Ada sms masuk. Kubuka Hp Nokia butut tipe 2300 kesayanganku. Aku pencet engel message. Ternyata Maharana. Lamat-lamat aku baca sms dari Maharana. "Pras, mbak Maharani tlh brplng mnghdp-Nya. Paru2x kmbuh dan tdk bs dsmbuhkn krna uda akut." Aku lemas lunglai. "Innalillahi wa innalillahirojiun," lirih suara dari bibirku keluar. Semua milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya. "Ternyata suara iba dan sedikit aneh semalama ini jawabannya," aku hanya membatin. Selamat jalan Maharani. "Meski suaramu menggelegak, ternyata suara iba dan aneh semalam adalah sakit akut dan berujung pada kepergianmu yang sepagi ini."
8-Desember-2007 |
Read more...
posted by wahyu pena @ 8:18 AM  |
|
|
|
|
| About Me |
|

Name: wahyu pena
Home: Bayuwangi, East Java, Indonesia
About Me: Manusia yang berdiri diatas kaki sendiri, menerima pekerjaan sesuai dengan kemampuan, hirau dengan sekitar, tidak ego, suka kerja-kerja yang rapi, dan tidak terlalu suka bergantung kepada orang lain. Aku orangnya welcome kepada siapa saja, asal tidak mendoktrin.
See my complete profile
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| Shoutbox |
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
| Links |
|
|
| Links |
|
|
| Powered by |

|
|