| Friday, November 30, 2007 |
| Pelacur Intelektual |
Oleh; Wahyu Pena
“Menasehati mungkin gampang sekali, tapi memperbaiki diri itu sulit. Jadi, sebelum ber-amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran, usahakan terlebih dahulu hati juga bersih dari sikap yang tidak mengenakkan itu.”
Kata yang pas untuk menggambarkan kondisi kita sekarang adalah “ada yang tertinggal setelah kehilangan”, merasa ada yang hilang setelah meninggalkan, dan ada ruang hampa setelah kepergian. Sadar atau tidak sadar ini adalah realita. Realita itu sendiri adalah kenyataan dan kenyataan adalah perkara yang berurusan dengan Departemen Ketuhanan. Jadi, mau tidak mau kita harus menikmati kenyataan, bukan hanya sekedar menjalani, karena hidup adalah keniscayaan yang Dia kehendaki. Siapapun tak boleh mengganggu gugat.
Semua pasti sudah paham bahwa kita punya asa berikut cita. Asa dan cita juga harus diupayakan, tidak sekedar direncanakan, dicanangkan, serta ditargetkan. Bohong namanya bila asa dan cita hanya jadi slogan promosi biang keegoan. Kembali pada realita, kita adalah thaifah yang secara sengaja atau tidak sengaja memang telah ditakdirkan untuk mendalami Islam sebagai agama juga sebagai pemahaman (terlepas dari berbagai motif tentunya). Mengingat ini seharusnya kita menebah dada. Apa pasal? karena ternyata, meski bukan dalam bentuk prosentase, asa dan cita tak diimbangi dengan upaya pencapaian yang maksimal. Ada kubangan celah banyak diguna, ada media untuk merajut dan ada pula wahana untuk bersinggungan dengan apa yang dimau. Tapi apa lacut? Banyak sekali para punggawa yang dilepas dengan derai air mata dan cucuran keringat ternyata hanya jadi “pelacur intelek” di lumbung ilmu. Gaung bisa saja datang sendiri, tapi tidak seharusnya gaung digunakan mengoleksi ranum anggur menggiurkan. Dengan begitu asa dan cita yang diusung bukan malah membumbung akan tetapi berkabung karena semaian asa ilmu dicanangkan ternyata butiran khuldi didapatkan. Apa sebab? Karena yang salah adalah para thaifah yang meramu asa dicampur comberan air bah. Jadi, wajar bila yang timbul kemudian adalah rona redup kehidupan, sementara cahaya sinar terang warna asa dan cita ilmu tenggelam.
Menilik kembali pada orientasi, yang jelas ada dua orientasi. Pertama orientasi kedatangan dan kedua adalah orientasi kepulangan. Orientasi kepulangan itu masih nanti, yang nyata sekarang adalah kita sedang menjalani orientasi pertama; kedatangan. Yang seharusnya dilakukan seseorang ketika sudah mendapatkan apa yang diinginkan adalah memaksimalkan segala daya, upaya, potensi dan semua kemapuan untuk mencari bekal kepulangan. Tapi nyata kiasan apa dirasa tidak seindah apa yang dibayangkan.
Berkaca pada realita, orientasi kepulangan adalah hal yang sangat didamba, apalagi jika berhasil dengan menggondol predikat memuaskan. Coba korelasikan, kira-kira apa yang terjadi bila proses pertama sudah tidak benar, yang pasti, hukum kausalitas juga akan bicara lain pada proses kedua. Bilapun seorang intelek tapi inteleknya pelacur, maka medan kepulangan akan bertambah hancur mumur karena ramuan inteleknya bercampur baur antara yang haq dan bathil, hitam dan putih, nur dan dhalam serta keihkhlasan dan pelampiasan. Tak salah dan berlebihan bila seharusnya para pelacur intelek ini disingkirkan, bila perlu dibina dan dibinasakan sekalian. Sebab pelacur intelek masuk kategori ulama su’.
Sedari itu, maka kita harus benar-benar bisa memposisikan diri pada posisi yang benar, lurus dan selaras dengan koridor nilai standar normatif yang berlaku serta diakui oleh semua kalangan. Perbuatan lacur sudah sewajarnya, bahkan harus, dihindari, dan perbuatan mesum dijauhi. Tidak usah berdalih ta’aruf dan tafahum sebagai muqadimah. Semua tidak harus ada muqadimah-nya. Lagian yang demikian itukan termasuk mubram bukan mu’alaq. Yang seperti itu tanpa diberi pembukaanpun dengan sendirinya pasti akan datang dan bisa sendiri. Satu lagi yang mesti dipahami, “tak ada jaminan kepastian akan hakikat kepemilikan terhadap seseorang, karena memiliki dan tak memilki adalah kata sepadan dan semua berhak memilih antara keduanya,” termasuk pembaca. Sekarang semuanya terserah pada kita, mau pilih tetap jadi pelacur intelek berikut akibatnya atau yang shalih-shalih saja berikut akibatnya pula? Terserah Anda. WalLâhu a’lam |
posted by wahyu pena @ 12:08 PM  |
|
|
|
|
| About Me |
|

Name: wahyu pena
Home: Bayuwangi, East Java, Indonesia
About Me: Manusia yang berdiri diatas kaki sendiri, menerima pekerjaan sesuai dengan kemampuan, hirau dengan sekitar, tidak ego, suka kerja-kerja yang rapi, dan tidak terlalu suka bergantung kepada orang lain. Aku orangnya welcome kepada siapa saja, asal tidak mendoktrin.
See my complete profile
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
| Shoutbox |
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
| Links |
|
|
| Links |
|
|
| Powered by |

|
|