pesanggrahan kata
Friday, November 30, 2007
DARI 'ILMU ARAB MENUJU ADAB ARAB; Telisik Sejarah Asal Kalimat
Oleh; Wahyu Pena

Mukadimah
Bahasa sebagai komunikasi aktif baik dalam dialog satu arah maupun dua arah adalah medium untuk menyampaikan maksud tergerak dari sebuah keinginan. Ia adalah simbol-simbol makna. Tanda dari rasa yang tersembunyi. Dan alamat setiap tujuan. Bahasa lahir dari interaksi sosial. Ia merupakan penjelmaan yang lahir dan terlahirkan dari kontak aksi dan reaksi inten yang berlangsung dari waktu ke waktu. Bahasa adalah anak zaman yang muncul dengan varian dan tipologi. Ia alamat serta alat komunikasi di dalam komunitas tertentu, tak salah apabila ditemui perbedaan penggunaan simbol bahasa dalam sebuah komunitas dengan komunitas lain. Dan bahasan bahasa inilah yang menjadi kandungan serta isi dari adab itu sendiri. Sebab, bagaimanapun, adab dalam artian sastra adalah bagian tak terpisahkan dari bahasa itu sendiri.

Pendapat yang seperti ini diamini oleh Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono selaku presiden sastra Indonesia yang juga mantan dekan fakultas sastra Universtas Indonesia, kini berubah menjadi fakultas budaya, mendefinisikan sastra sebagai sebuah kegiatan berbahasa. Dia menyebutkan bahwa sastra Indonesia adalah sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Sastra Jepang adalah sastra yang ditulis dalam bahasa Jepang, begitu seterusnya. Begitu juga dengan sastra atau adab arab.

Dari pemahan inilah dapat disimpulkan bahwa adab adalah kegiatan "berbahasa" dari setiap komunitas sosial tertentu dan dalam lingkup geografis tertentu. Meskipun ada yang berpendapat bahwa sastra adalah adalah pencerminan segala apa yang berada dalam sanubari manusia. Tiap hasil sastra sebenarnya tak lain dan tak bukan melainkan sebuah petunjuk dari sesuatu yang berada dalam lubuk hati manusia. Tiap sajak pada hakekatnya adalah perwujudan keinginan, pengharapan, khayalan, dan idam-idaman semua umat manusia. Tapi meski demikian pendapat yang kedua ini tidak merubah makna dan definisi sastra seperti definisi yang diungkapkan oleh Supardi.

Pendapat yang senada juga diungkapkan oleh Jalal Shabir Hijazi, dia mendefinisikan sastra sebagai ekspresi yang indah, muncul dari nilai tertentu yang lahir dari kedalaman hati seorang sastrawan sebagai sebuah hasil penggambaran terhadap potret kehidupan manusia dan alam. Lebih rinci lagi, dalam paparannya dia menyebutkan asas pemahan sastra ada tiga. Pertama, nilai seni sebuah ekspresi yang tidak diekspresikan secara retoris seperti khotbah. Kedua nilai-nilai tertentu yang diangkat oleh seorang sastrawan yang dibarengi dengan usaha penyampaikan dengan bahasa-bahasa yang indah agar memberika "pengaruh" sastra, baik melalui pembacaan dan pendengaran objek sastra. Dan yang ketiga adalah, nilai yang digambarkan oleh sastrawan tadi merupakan "buah" atau "hasil" yang disampaikan seorang sastrawan secara "khusus" dalam memahami fenomena kehidupan manusia dan berbagai peristiwa-peristiwa alam.

Makna Adab Pada Masa Jahiliah Sampai Abad Kesatu

Walaupun penduduk jazirah arab sudah pandai membuat sya'ir-sya'ir dan prosa-prosa, pada awal mulanya definisi adab arab atau biasa disebut dengan sastra arab seperti sekarang ini tidak ada dalam ranah dunia arab. Yang ada ilmu arab. Ini semua tidak lepas dari makna adab itu sendiri. Sebab, makna kalimat adab merupakan sebuah makna kalimat yang berkembang mengikuti perkembangan kehidupan manusia dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi, sampai pada akhirnya ditemukan kesepakatan makna dari para sastrawan adab sebagai sebuah gugusan kata indah yang bertujuan mempengaruhi perasaan dan emosi pembaca dengan cara membaca maupun mendengarkan baik dalam bentuk natsr (prosa) dan sya'ir (puisi).

Dalam pandangan Dr. Syauqi Dhaif, pada awal mulanya adab bermakna undangan makan-makan. Derivasi katanya berasal dari a da ba, yak du bu yang berarti membuat pesta makan. Sedangkan masdar mimnya mak du ba tan yang berarti makanan yang disajikan untuk manusia. Dan seorang yang adib berarti dia adalah orang yang mengundang pesta makan-makan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa makna adab berkutat pada makna hissi atau rasa.
Dia kemudian menjelaskan, kalimat adab mengalami perluasan makna. Kalimat yang semula bermakna undangan makan-makan, dalam perjalanannya berubah menjadi makna tahdzibi atau pembudayaan moral. Hal ini sesuai dengan Hadist nabi yang berbunyi, " adabani rabbi fa ahsana takdibi". Sependapat dengan Dr. Syauqi, Nalinu juga menjelaskan bahwa adab yang semula bermakna hissi berubah menjadi makna tahdzibi atau pembudayaan. Bahkan Nalinu lebih jelas lagi, sebab ia menjelenterehkan perubahan bentuk kalimat adab yang semula da a ba menjadi a da ba.
Setelah mengalami perubahan dan pergeseran makna seperti diatas, lebih lanjut, ternyata makna kalimat adab ini berubah lagi menjadi makna ta'limi atau pembelajaran. Perubahan ini terjadi pada masa dinasti 'abasiah. Pada masa ini adib berarti yang terpelajar dan muaddibin berarti para pengajar. Lebih spesifiknya lagi, kata muaddibin ini disematkan pada para pengajar putra-putra khalifah. Dengan demikian para pengajar dan penulis kitab serta riwayat-riwayat pada masa ini bisa disebut sebagai muaddibin.
Ketidakjelasan ini terjadi karena sampai pada akhir abad ke satu, belum ada batasan-batasan makna adab secara ilmiah yang bisa mewakili definisi adab secara komprehensip, menyeluruh tapi khusus dan tidak memungkinkan adanya anasir-anasir lain yang merecokinya. Tapi meskipun belum mampu berdiri sebagai sebuah cabang disiplin ilmu pengetahuan, gerakan bahasa sudah ada sejak dahulu kala walau hanya terbatas pada pusi dan prosa.

Adab Arab Sebagai Disiplin Ilmu
Setelah sekian lama mengalami keburaman makna, maka pada awal abad kedua mulai menemukan titik terang. Pada abad kedua ini kalimat adab sudah tidak lagi disematkan kepada para penulis riwayat dan para penyair yang biasa menggubahknnya menjadi lagu-lagu, melainkan lebih khusus bagi orang yang benar memahami ilmu adab (sastra). Baru apada abad keenam, adab benar-benar mampu berdiri sendiri sebagai disiplin ilmu pengetahuan. Munculnya adab arab sebagai disiplin yang mandiri, lepas dari ilmu arab, ditandai dengan kualifikasi disiplin ilmu-ilmu tertentu yang harus dikuasai oleh seorang adib. Kualifikasi ilmu-ilmu yang harus dikuasai oleh seorang adib ada perbedaan menurut ulama. Imam Zamakhsyari (wafat tahun 537 H.) menyebutkan ada dua, primer dan sekunder. Adapun yang primer adalah bahasa, nahwu, shorof, badi', ma'aniy, bayan, 'urud dan qawafi. Dan yang sekunder adalah imla', insya', tawarikh serta qordu syi'ir. Beliau mendefiniskan ilmu adab sebagai ilmu yang menjaga dari kesalahan di dalam berbicara bahasa arab baik dalam melafalkannya maupun menuliskannya. Sementara itu, Ibnu Al Anbari (588), salah satu akademisi lulusan madrasah nidzamiyah di Bagdad yang didirikan oleh Nidzom Mulk yang wafat pada tahun 485 H., menteri Malik Syah Saljuqi, menyebutkan, ada delapan kualifikasi ilmu yang harus dikuasai oleh seorang adib, yaitu nahwu, shorof, bahasa, qawafi, shun'atu syi'ir, 'urud, akhbaru aab dan ansab. Dan masih banyak lagi.
Meski sudah independen, adab arab secara umum bentuknya sama dengan ilmu arab. Hal yang paling membedakan adalah tujuan dari keduannya. Kalau adab arab menurut Ibnu Khaldun ada dua, minimal dan maksimal. Yang minimal adalah, seorang sastrawan, dengan teori adab, mampu membuat syair dan prosa dengan indah, sedangkan yang maksimal adalah mampu memahami kitab Allah dan sunah nabi.
Dari sini jelaslah bahwa munculnya adab arab dalam artian sastra arab baru pada masa islam, bukan masa jahiliah. Meskipun adab secara gerakan sudah ada. Namun, secara ilmiah akademiki dan mandiri sebagai cabang dari ilmu pengetahun baru muncul pada masa Islam. Wallahu a'lamu bil shawab.
.
posted by wahyu pena @ 11:58 AM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
About Me

Name: wahyu pena
Home: Bayuwangi, East Java, Indonesia
About Me: Manusia yang berdiri diatas kaki sendiri, menerima pekerjaan sesuai dengan kemampuan, hirau dengan sekitar, tidak ego, suka kerja-kerja yang rapi, dan tidak terlalu suka bergantung kepada orang lain. Aku orangnya welcome kepada siapa saja, asal tidak mendoktrin.
See my complete profile
Previous Post
Archives
Shoutbox

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus.

Links
Links
Powered by

BLOGGER