pesanggrahan kata
Friday, November 30, 2007
Agama Hindu
Oleh: Wahyu Pena



Sejarah Keagamaan

Yang pasti dan tidak bisa dipungkiri bahwa sebuah agama, agama apapun itu, berpijak pada kodrat kejiwaan, yaitu keyakinan. Nah, eksistensi dari sebuah agama itu tergantung seberapa dalam dan seberapa jauh keyakinan akan sebuah agama itu meresapi kejiwaan setiap pengikutnya. Untuk menelusuri dari mana asal timbulnya keyakinan keagamaan dalam sejarah manusia, itu bukan perkara mudah, karena banyak versi dan asumsi yang berkembang oleh banyak kalangan.

Sudah jamak diketahui bahwa ada perbedaan yang sangat curam antarkalangan tentang awal muasal timbulnya keyakinan keagamaan. Setidaknya ada dua golongan yang berseberangan tentang timbulnya keyakinan keagamaan. Dan, titik temu antar golongan itu sampai kini masih dibatasi jurang menganga.

Golongan pertama diwakili oleh para agamawan. Kalangan ini meyakini bahwa agama itu berasal dari kodrat Maha Pencipta yang memberikan bimbingan kepada manu pertama kemudian manu pertama tadi mewariskannya kepada keturunanya. Di hari kemudian, ajaran dan bimbingan Tuhan itu tidak selalu diikuti pengikutnya. Ada sebagian yang masih berada pada jalur dan koridor yang benar dan sebagian lagi menyeleweng serta menyangkal ajaran manu pertama tadi sesuai dengan selera pada suatu tahap masa tertentu. Maka, dari situlah kodrat Maha Pencipta melahirkan pembaharu agama pada suatu tahap masa.
Golongan kedua adalah kalangan ilmiah. Kalangan ini menyandarkan pendapat tentang asal mula timbulnya sejarah keagamaan pada para sarjana kejiwaan yang mana pendapat mereka berpijak pada teori Charles Darwin (1809-1992). Di antara ilmuan-ilmuan tadi ialah Sigmund Freud (1859-1939) dan Carl Jung (1875-1961). Freud mengatakan bahwa, “Religion is the expression of neuroses, based on the guilt inherent in repression of infantile sexual fantasies”. “Agama itu adalah penjelmaan gangguan saraf berdasarkan dosa diri yang membenam disebabkan represi terhadap kayal seksuil masa kanak-kanak.”

Tetapi pendapat Freud itu sendiri tidak mencakup dan meliputi keseluruhan agama, melainkan terbatas pada agama tertentu. Selain itu juga, pendapat Freud sukar dipahami jika orang tidak mengenal latar belakang dari pendapatnya. Ia lahir dan hidup dalam lingkungan Kristen. Ia tumbuh dan berkembang dengan doktrin agamawan Kristen yang mengatakan bahwa, kehidupan agama yang paling utama ialah menjadi biarawan dan biarawati tanpa kawin. Freud juga menerima ajaran agamawan dari agama Brahma atau Hindu tentang resi dan pertapaan. Sedangkan Carl jung mengungkapkan bahwa, “Relegion represent the method mankind has developed to live with those fear and frustration which have been built into our subconscious”. “Agama itu merupakan representasi perkembangan tatacara hidup manusia yang disebabkan ketakutan-ketakutan dan kekecewaan-kekecewaan yang membenam kedalam bawah sadar.”

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa pola-pola terbentuknya agama dan rasa keberagamaan menurut kalangan ilmuan merupakan refleksi ketakutan, kecemasan, kegalauan, kekeringan rohani, dan keterasingan yang kemudian menciptakan gagasan untuk mencari simbol-simbol keagamaan yang menurut mereka mampu menampung aspirasi mereka dan mengilustrasikan ketuhanan. Maka, tidak bisa disalahkan bila di kemudian hari muncul penyembahan terhadap simbol-simbol yang mereka anggap suci.

Sejarah Agama Hindu

Genap diketahui agama Hindu berasal dari India. Maka, untuk mengetahui sejarah perkembangannya, haruslah dipelajari sejarah perkembangan India meliputi aspek perkembangan penduduk maupun aspek kebudayaannya dari zaman ke zaman. Berdasarkan penelitian usia kitab-kitab Weda, para ahli sampai pada suatu kesimpulan bahwa agama Hindu telah tumbuh dan berkembang sekitar abad 6.000 SM. Sebagai agama tertua, Hindu kemudian berkembang ke berbagai wilayah dunia, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia.

Pada awalnya, agama ini tidak jelas apa namanya. Agama ini hanya diketahui sebagai sebuah ajaran yang menganjurkan kebaktian kepada Tuhan. Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Sofwat Hamid Mubarok, umat Hindu menyembah perwujudan yang ada di alam dunia berikut kekuatannya. Mereka beranggapan, diantara bentuk-bentuk perwujudan itu mengandung kekuatan ketuhanan. Maka dari itu, pada masa umat Hindu terdahulu kita dapati semisal Tuhan langit, bumi, hujan dan lain-lain. Mereka menghadap dan bersembah sujud beribadah serta mengkultuskannya dengan spirit ketundukan, kekhusu’an, rasa penyerahan diri, menyediakan sesajen, meminta pertolongan agar diberi manfaat hidup dan dijauhkan dari segala macam mara bahaya. Sejalan dengan perjalanan waktu, kemudian mereka beranggapan bahwa ada Tuhan di antara Tuhan yang mereka sembah. Mereka menyebutnya dengan “Tuhannya Tuhan”, Tuhan diantara tuhan-tuhan.

Masih menurut Dr. Hamid, setelah adanya pengakuan terhadap adanya satu Tuhan diantara Tuhan maka umat Hindu menyebut Tuhan itu dengan sebutan Brahman. Brahman adalah satu Tuhan akan tetapi pada waktu bersamaan dia juga tiga (Tuhan). Brahma sebagai Tuhan pencipta. Wisnu sebagai Tuhan penjaga yang melestarikan. Dan, Siwa sebagai Tuhan perusak. Dari sini agama Hindu memasuki babakan baru, yang semula menyembah banyak Tuhan beralih kepada agama Tauhid dan Trinitas. Perubahan ini terjadi pada abad ke-8 SM. Dan dari itu semua, maka agama ini bernama Brahma, dari semula tidak bernama dengan sebuah asumsi karena segala ragam macam ritual keagamaan harus berada dibawah kalangan brahimisme, pemuka agama dari kalangan pendeta.

Senada dengan Hamid, Joesoef Sou’yb juga mengamini pendapat Dr. Hamid diatas. Hanya saja, Joesoef lebih terperinci ketimbang Dr. Hamid. Ia menjelaskan bahwa Brahma dalam penafsiran agama Hindu itu adalah wujud azali dalam keadaan diam (unmoving). Pada saat kodratnya bergerak menciptakan alam semesta maka Brahman menjelma menjadi Brahma. Ketika kodratnya yang memilihara dan mengembangkan alam semesta maka Brahman menjelma dalam wujud Wisnu. Semetara, kodratnya yang mengembalikan segala sesuatu pada asalnya, baik melalui pembinasaan dan pemusnahan, maka Brahman menjelma kedalam wujud Siwa. Inilah tiga oknum dari Brahman, yaitu, Brahma, Wisnu, dan Siwa yang dikemudian hari disebut dengan paham Trimurti. Tiga dalam satu, satu dalam tiga.

Paham Trimurti ini kemudian mengalami perkembangan dengan melahirkan pasangan Trishakti. Trishakti merupakan pasangan dari Trimurti. Trishakti itu adalah, Sharasvati sebagai permaisuri Brahma yang melambangkan dewi kebijaksanaan dan pengetahuan, Laksmi, permaisuri Wisnu yang melambangkan dewi kecantikan dan kebahagiaan, serta Parvati sebagai permaisuri Siwa yang melambangkan keberanian dan kegarangan. Dari sini dapat disimpulkan, bahwa agama Hindu pada mulanya bukan bernama agama Hindu, melainkan agama Brahma. Dr. Hamid melihat ada perbedaan pendapat tentang munculnya agama Hindu. Menurutnya, Hindu adalah sebuah agama dengan sistem kepercayaan yang muncul pada abad ke-15 SM.

Agama Hindu baru dikenal sebagai agama dengan sebutan “Hindu” pada tahun 184-72 SM. Ini semua tidak lepas dari perseteruan dinasti Sunga dan Mauria yang masing-masing dinasti mengakui satu kepercayaan dalam kekuasaanya dan mengesampingkan lainya. Agama Hindu atau Brahma terdesak ke anak benua India sewaktu raja Asoka (274-236 SM) dari dinasti Mauria (321-184 SM) mengangkat agama Budha sebagai agama resmi dalam wilayah kekuasaanya. Bahkan mereka juga mengirim misi Budha ke luar India, termasuk ke Syria, Egypt, Cyrene, Makedonia, Epirus di semenanjung Yunani, serta ke Birma dan Srilangka. Munculnya agama Budha, juga tidak luput dari penyelewengan penafsiran tentang Weda sebagai kitab suci agama Brahma dan adanya kelas dalam agama tersebut. Inilah yang memicu, dimana masyarakat awam yang dianggap kelas terhina dalam agama Hindu, berbondong-bondong masuk agama Budha dan Jaina. Baru setelah satu setengah abad kemudian ketika dinasti Mauria ditumbangkan oleh dinasti Sunga (184-72 SM), kembali mengangkat agama Brahma sebagai agama resmi pada wilayah kekuasaanya. Dan setelah itu, Brahma disahkan sebagai agama masyarakat India yang sampai sekarang kita kenal dengan sebutan agama Hindu, agama resmi penduduk India.

Sebagaimana agama lainya, Hindu punya peranan penting dalam peradaban keagamaan dunia serta dalam mempengaruhi tingkah laku atau tabiat manusia. Bahkan, Kristen sebagaimana kita ketahui saat in,i merupakan salah satu agama samawi yang terpengaruh agama Hindu tentang ajaran Trinitasnya. Pun juga ajaran Islam, khususnya dalam penamaan Tuhan dan ritual keagamaan lainnya. Secara ilmiah, terasa sulit untuk menemukan kepastiaan tentang awal mula, atau siapa yang mengajarkan agama Hindu. Ini dikarenakan mereka tidak meyakini akan hakekat kenabian, bahkan mengingkari akan itu. Yang bisa ditelusuri dari jejak sejarah agama ini hanyalah, pada awal mulanya agama ini bisa dikategorikan agama poleteis karena menyembah banyak Tuhan (baca: dewa). Tidak hanya satu. Bahkan, mereka juga termasuk aliran animisme dan dinamisme karena mereka menyembah berhala, pohon dan hal-hal lain yang dianggap punya kekuatan. Ritual agama Hindu layaknya kita ketahui bersama, ialah menyediakan sesajai bagi dewa-dewi yang mereka anggap punya kekuatan. Ada banyak dewa yang mereka yakini. Seperti dewa bumi, matahari, bulan sungai, laut, darat, dan lain sebagainya.

Mereka beranggapan bahwa dari setiap perwujudan yang ada dimuka bumi ini mempunyai kekuatan serta patut untuk disembah dan dimintai pertolongan. Umat Hindu menyembah dewa-dewi mereka dengan tujuan-tujuan tertentu sesuai dewa atau dewi yang mereka yakini. Misalnya, mereka menyembah matahari karena mereka meyakini bahwa matahari adalah sumber kehidupan. Tanpa matahari maka segalanya sesuatu tidak akan berkembang. Dari itu kemudian mereka menyembah matahari, dan masih banyak lagi contoh kasus yang seperti ini.

Hal yang semakin membuat sulit lagi, karena umat Hindu menganggap bahwa turunnya nabi atau rasul sebagai penjelas akan agama mereka dianggap sebagai sesuatu yang tidak berguna. Padahal, jika ada nabi atau rasul, bisa mempermudah penggalian sejarah historigrafi agama ini. Seperti halnya agama-agama samawi lainya; Yahudi, Kristen dan Islam. Begitu mudah bagi siapapun mengakses awal muasal munculnya. Bangunan penolakan mereka terhadap kenabiaan dipengaruhi oleh sebuah keyakinan bahwa apa-apa yang dibawa nabi bisa saja sesuai dengan hukum akal atau sebaliknya. Jika ajaran yang dibawa nabi sesuai dengan hukum akal, maka manusia tidak akan membutuhkan apa-apa yang dibawa nabi, karena itu berarti nabi tidak membawa hal baru bagi manusia. Dengan demikian, maka turunnya nabi merupakan hal yang tidak ada artinya. Sesuatu yang tidak ada artinya berarti tidak sesuai dengan Tuhan yang Maha Kuasa. Maka dari itu, manusia cukup menggunakan akalnya masing-masing dalam mengejawentahkan kehidupan dunia tanpa adanya manusia utusan. Jika ajaran yang dibawa nabi bertentangan dengan akal manusia, maka manusia harus mengedepankan akalnya ketimbangan menjalankan ajaran nabi atau rasul yang bertentangan dengan akalnya, serta menolak apa-apa yang dibawa nabi. Ini semua tidak lepas dari keyakinan mereka yang mengatakan bahwa akal adalah hujjah Tuhan kepada hambanya, dan akal adalah tempat kewajiban, tanggung jawab, pahala dan dosa. Maka dari itu, turunnya nabi terkatagorikan hal yang tidak ada gunanya.

Kitab Suci Agama Hindu

Kitab suci agama hindu terbagi ke dalam dua golongan, Sruti dan Smriti. Kitab Sruti adalah setiap kitab yang berisikan ajaran yang langsung diwahyukan oleh Brahman kepada setiap Resi, yaitu kitab Weda. Dikatakan, bahwa orang-orang Arya lah yang menerima wahyu Weda. Wahyu-wahyu Weda ini tidak turun sekaligus, melainkan dalam jangka waktu yang agak lama, dan juga tidak diwahyukan di satu tempat saja. Penerima wahyu disebut Maha Resi, diterima melalui pendengaran, dan oleh sebab itu wahyu Weda disebut Sruti (Sru artinya pendengaran). Jenjang waktu ketika wahyu-wahyu Weda turun itulah disebut sebagai zaman Weda dan ajaran Weda. Inilah pendapat yang kemudian tersebar ke berbagai penjuru dunia, sebagaimana diamini oleh Imam Sahratsani dalam bukunya al-Milal wa al-Nihal.

Weda berarti pengetahuan. Kitab ini terdiri dari empat Samhita (himpunan); Regweda, Samaweda, Yajurweda, dan Atharwaweda. Regweda berisi 1028 nyanyian keagamaan atau himne dan terdiri dari 10.600 bait. Kitab Regweda ini dianggap sebagai Samhita tertua di antara yang lainya. Samaweda berisikan kumpulan bunyi-bunyian untuk mengiringi nyanyian keagamaan dalam Regweda. Dan, Yajurweda mengandung kumpulan nyanyian keagamaan beserta tatacara upacara-upacara kebaktian. Sedangkan Atharwaweda berisikan himpunan mantra-mantra, guna-guna, nyanyian-nyanyian perkawinan berikut nilai filosofis dan teologisnya. Pada awal mulanya, kitab Weda bukan merupakan himpunan tertulis, melainkan hanya sebuah ajaran yang dianggap suci, bersifat nyanyian keagaman, diwariskan turun-temurun secara hafalan di luar kepala. Adapun pengkodifikasiannya terjadi pada abad ke-5 SM. Sebagian besar kaum terpelajar pengikut agama Hindu belakangan sudah tidak mengakui kodifikasi kitab yang ke-4, Atharwaweda, sebagai kitab suci lagi. Ini disebabkan, karena mereka merasa kitab tersebut sudah terlalu banyak campurtangan dan penyalin-penyalin.

Golongan Smriti adalah setiap tradisi (ucapan, perbuatan, dan tulisan) yang berisi ajaran suci dari Resi atau ajaran dari Acarya ataupun ajaran Avatar seperti halnya Krisna dan lainya. Yang bisa dikategorikan ke dalam bagian Smriti ini adalah Brahmanas, Mahabarata, Bhagvatgita, Ramayana, Purana dan lain sebagainya dengan sebagian keterangan tiap bagiannya sebagaimana berikut.

Brahmanas, kitab ini bermakna hal-hal yang berkaitan dengan Brahma, kodrat universal yang menjadi tumpuan kebaktian. Kitab ini berisi interpretasi ajaran-ajaran keagamaan yang terkandung dalam kodifikasi nyanyian Weda. Interpretasi itu timbul kurang lebih pada tahun 1000 dan 800 SM. Brahmanas itu terdiri dari lima belas bagian. Bagian yang dianggap terpenting ialah Shatapata-brahmana yang berisi petunjuk-petunjuk tentang Purusha-medha (pengorbanan diri) dan berbagai korban lainya. Ciri khusus dari Brahmanas itu adalah adanya wewenang kependetaan dalam tiap upacara kebaktian yang menempati kedudukan paling penting dalam agama Hindu.

Upanishads, kitab ini berisi pembahasan-pembahsan yang bersifat mistik dan filosofis tentang Brahman, kejadian alam semesta, diri, jiwa dan atman serta cara memulangkan atman ke dalam Brahman. Dalam Hindu, kitab ini dianggap menempati kedudukan paling tinggi karena berisikan tentang teologi. Upanishad ini berjumlah 108 buah. Ada yang terdiri dari beberapa ratus kata saja, tapi ada juga yang berjumlah ribuan. Namun demikian, madzhab Shankara-charya cuma mengakui 16 saja yang mereka anggap otentik dan merupakan bagian dari kitab suci. Selebihnya tidak mereka akui karena kelihatan sekali campur tangan para penulis dan penyalin. Meski demikian, madzhab lain tetap mengakui semua, bahkan mereka mengakuinya sebagai sumber keyakinan dan teologi.

Mahabarata, pokok bahasan yang terkandung dalam kitab ini adalah kisah usang tentang perang terbesar dari keluarga Bharata, Pandawa dan Kurawa. Keduanya dilambangkan sebagai kekuatan jahat dan baik. Satu hal yang sangat menonjol dari kitab ialah pembagian masyarakat ke dalam 4 kelas. Padahal dalam kitab sebelumnya pembagian ini tidak ada, bahkan dalam Weda sekalipun. Selain kitab-kitab di atas, masih banyak lagi kitab-kitab suplemen yang merupakan bentuk serta wujud penafsiran dari kitab pokok agama Hindu.

Reinkarnasi

Dalam agama Hindu, ada sebuah keyakinan bahwa manusia akan selalu lahir dan mati berulang-ulang, inilah yang sering disebut dengan istilah reinkarnasi. Reinkarnasi yang dalam bahasa Arab disebut al-tanâsukh, dalam agama Hindu disebut dengan Punarbawa. “Punar” berarti kembali dan “Bawa” berarti lahir, jadi Punarbawa adalah lahir kembali. Dengan demikian, reinkarnasi adalah suatu kepercayaan tentang adanya proses kelahiran yang berulang-ulang atau penitisan. Menurut Dr. Hamid, terjadinya reinkarnasi diakibatkan dua hal;

Pertama, karena akibat perbuatan manusia, baik perbuatan kebajikan atau kejahatan yang ia lakukan semasa hidupnya. Segala bentuk perbuatan manusia pahalanya tidak mereka dapatkan didunia ini, melainkan nanti ketika di Nirwana. Untuk mendapatkan pahala ini maka harus melalui proses reinkarnasi agar manusia dapat benar-benar bersih dari segala macam dosa untuk kemudian bisa mencapai titik “kosong” atau “Brahman”. Semua itu tidak dapat dicapai oleh manusia kecuali melalui proses reinkarnasi. Orang yang baik akan menyatu dengan jasad orang yang baik, dan yang buruk akan menyatu dengan jasad yang buruk pula sampai betul-betul bersih dari segala macam dosa.

Kedua, karena adanya kehendak, keinginan atau tugas manusia yang belum terlaksana di dunia ini. Pendapat pertama Dr. Hamid, senada dengan keyakinan agama Hindu, adanya reinkarnasi dalam ini dikarenakan adanya konsep “Karmapala”, hukum sebab akibat. Menurut keyakinan mereka ada tiga karmapala. Pertama, prarabda karma, yaitu, perbuatan manusia pada masa sekarang dan hasilnya dinikmati sekarang juga. Kedua, kriyamana karma, yakni, perbuatan manusia pada masa sekarang tapi hasilnya baru bisa dinikmati kelak di alam baka. Dan, yang ketiga adalah sancita karma, ialah, perbuatan manusia sekarang ini dimana hasilnya akan ia terima di dunia ini pula pada waktu reinkarnasi atau penitisan.

Abu Zahra, menuturkan, jiwa adalah materi yang kekal tidak akan pernah fana, mengetahui, dan suci selama masih terpisah dengan jasad. Ketika sudah bersatu dengan jasad sebagai baju jiwa, maka berkuranglah kesucian dan pengetahuannya. Keyakinan seperti inilah yang membedakan agama Hindu dengan agama lain. Dalam agama Hindu, jiwa adalah Atman. Atman merupakan percikan Brahman, melalui Atman sebagai percikan Brahman inilah manusia dapat menikmati kehidupan. Akibat Atman, maka kehidupan di dunia ini dan proses menghidupkan Atman akan berpindah-pindah serta berulang-ulang dari satu badan ke badan yang lain melalui reinkarnasi atau penjelmaan kembali sebagai makhluk. Hubungan antara Atman dengan jasad adalah sama halnya badan dengan baju. Kita adalah badan dan jasad adalah baju. Wallahua’lamu bil shawab.

Daftar pustaka

- Joesoef Sou’yb, Agama-Agama Besar Dunia, Pustaka Alhusna, Jakarta cet. I hal, 16-17 1983
- Dr. Shafwat Hamid Mubarok, Mudkhal Lidirasati al Adyan, Darul Kutub, Kairo Mesir, hal.22-23
- http://www.babadbali.com/canangsari/pa-sejarah-perkembangan.htm
- Sahrustsani, al-milal wa al nihal, Darul Kutub, Beirut Lebanon, vol. I hal. 708.
- Muhammad Abu Zahro, Muqaranatu Al-Adyan Aldiyanat Al-Qadimah, Darul Fikr, Kairo, Th. 1991, Hal. 38
posted by wahyu pena @ 11:05 AM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
About Me

Name: wahyu pena
Home: Bayuwangi, East Java, Indonesia
About Me: Manusia yang berdiri diatas kaki sendiri, menerima pekerjaan sesuai dengan kemampuan, hirau dengan sekitar, tidak ego, suka kerja-kerja yang rapi, dan tidak terlalu suka bergantung kepada orang lain. Aku orangnya welcome kepada siapa saja, asal tidak mendoktrin.
See my complete profile
Previous Post
Archives
Shoutbox

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus.

Links
Links
Powered by

BLOGGER