| Friday, November 30, 2007 |
| Jangan Kapling Surga Tuhan! |
Oleh; Wahyu Pena
Ke-Bhinneka-an, Ittihad, dan Unity didalamnya pasti terdapat banyak ragam yang berbeda, kemudian karena keragaman tersebut perlu adanya sebuah wadah yag menampung demi kepentingan bersama maka dirumuskanlah suatu ideologi yang mengakomodir semua kepentingan sampai menemui satu titik temu yang tidak saling merugikan satu sama lain. Begitu juga adanya dengan Indonesia ketika merumuskan kata “Ketuhanan Yang Maha Esa” sila pertama dari lima pancasila yang kita kenal. Pemilihan diksi ini dirasa lebih pas serta bisa diterima ketika itu dan lebih menjamin stabilitas negara dari perpecahan yang ada didepan mata.
Perumusan Pancasila bukan ditentukan oleh segelintir orang bodoh yang tidak tahu agama, melainkan dirumuskan oleh orang-orang yang tidak lagi diragukan kredibilitasnya baik dalam beragama, berbangsa, dan bernegara apalagi berpolitik. Maka aneh rasanya bila saat ini ada satu dua orang dan seterusnya yang menghendaki pancasila dirubah sebagai ideologi negara dan mencari ideologi lain. Selain perubahan pancasila sebagai ideologi, ada lagi isu yang tak kalah serunya, yakni perda syariat. Lebih anehnya lagi mayoritas ormas-ormas besar kebingungan ketika harus dibenturkan dengan perihal syariat pada tataran makro dan mikro. Pada tataran makro, ambil saja sample RUU APP rata-rata mereka setuju tapi yang menggelikan adalah ketika pada tataran mikro seperti halnya perda syariat itu sendiri mereka berbondong-bondong menolak.
Menurut hemat penulis, segala perbuatan manusia dalam kontek bernegara yang berkaitan dengan kepercayaan yang dalam hal ini agama tentunya tidak usah di-legal-formal-kan, biarkan agama masing-masing berikut ideologi agama tersebut yang mengatur segala kegiatan yang ada kaitanya dengan keyakinan penganutnya. Sebab ada pemahaman yang harus dan perlu dipahami secara menyeluruh bahwa Indonesia bukanlah agama sebagai negara. Karena pada hakekatnya tak ada agama yang tidak lurus, semua lurus dan bukankah makna agama itu sendiri bila ditilik dari leksikal aslinya, sangsekerta, adalah peraturan yang mengatur manusia agar ”teratur” tidak amburadul. Bahkan kalau mau diteliti lebih jeli lagi antara satu agama dengan yang lain memilki pola aqidah yang hampir sama-kalau tidak boleh dikatakan sama. Misalnya, yang baik itu belum tentu baik menurut-Nya dalam Islam, di Hindu juga ada, rwa bhinneka namanya. Tuhan itu bukan laki-laki dan bukan pula perempuan, serta Tuhan itu selalu bergerak dan bekerja dalam Islam, dalam kontek siwa budha dan taksu di Hindu juga ada. Kalau umat Islam menganut konsep ummatan wahidatan, umat Hindu juga mengakui konsep ini. Satu lagi, di Islam ada istilah da’wah, ternyata umat Hindu juga mengakui konsep ini.Bedanya, da’wah Hindu tidak ditujukan untuk mencari pengikut baru. Dalam dinamika kehidupan ini penulis lebih suka meminjam istilah ‘becik ketitik, olo ketoro’ dalam al-Quran. Jadi, tidak usah mengkapling surga dengan paspor kemunafikan. Surga itu surga tuhan, tidak ada hak kita mengkapling. Toh tendensi religion ideology formality juga tidak bisa menjamin kita bakal masuk surga. Apalagi polisi syariah, polisi adab dan polisi lainya. Bisa apa mereka? Apa mereka sudah merasa sebagai Tuhan yang bisa men-justifikasi perbuatan kemudian menentukan surga dan neraka mana bagi manusia? lha wong mereka sendiri masih manusia dan masih mencari justifikasi pembenaran kemanusiaanya. Kok aneh-aneh. Padahal man’s justification itu lain dengan God’s justification. Sedari itu, selama para pembuat perda syariat dan per per yang lain tidak bisa menjamin kesurgaan kita kelak tidak usah dipikir susah. Buang energi saja. Lebih baik kita berpikir dan berbicara untuk kepentingan yang lebih umum dan manfaatnya lebih besar, tidak hanya sekedar bagi segelintir, segerombolan dan bagi satu agama saja, melainkan untuk agama dan tentunya negara juga. Wallahu a’lam. |
Read more...
posted by wahyu pena @ 12:14 PM  |
|
|
|
|
| Pelacur Intelektual |
Oleh; Wahyu Pena
“Menasehati mungkin gampang sekali, tapi memperbaiki diri itu sulit. Jadi, sebelum ber-amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran, usahakan terlebih dahulu hati juga bersih dari sikap yang tidak mengenakkan itu.”
Kata yang pas untuk menggambarkan kondisi kita sekarang adalah “ada yang tertinggal setelah kehilangan”, merasa ada yang hilang setelah meninggalkan, dan ada ruang hampa setelah kepergian. Sadar atau tidak sadar ini adalah realita. Realita itu sendiri adalah kenyataan dan kenyataan adalah perkara yang berurusan dengan Departemen Ketuhanan. Jadi, mau tidak mau kita harus menikmati kenyataan, bukan hanya sekedar menjalani, karena hidup adalah keniscayaan yang Dia kehendaki. Siapapun tak boleh mengganggu gugat.
Semua pasti sudah paham bahwa kita punya asa berikut cita. Asa dan cita juga harus diupayakan, tidak sekedar direncanakan, dicanangkan, serta ditargetkan. Bohong namanya bila asa dan cita hanya jadi slogan promosi biang keegoan. Kembali pada realita, kita adalah thaifah yang secara sengaja atau tidak sengaja memang telah ditakdirkan untuk mendalami Islam sebagai agama juga sebagai pemahaman (terlepas dari berbagai motif tentunya). Mengingat ini seharusnya kita menebah dada. Apa pasal? karena ternyata, meski bukan dalam bentuk prosentase, asa dan cita tak diimbangi dengan upaya pencapaian yang maksimal. Ada kubangan celah banyak diguna, ada media untuk merajut dan ada pula wahana untuk bersinggungan dengan apa yang dimau. Tapi apa lacut? Banyak sekali para punggawa yang dilepas dengan derai air mata dan cucuran keringat ternyata hanya jadi “pelacur intelek” di lumbung ilmu. Gaung bisa saja datang sendiri, tapi tidak seharusnya gaung digunakan mengoleksi ranum anggur menggiurkan. Dengan begitu asa dan cita yang diusung bukan malah membumbung akan tetapi berkabung karena semaian asa ilmu dicanangkan ternyata butiran khuldi didapatkan. Apa sebab? Karena yang salah adalah para thaifah yang meramu asa dicampur comberan air bah. Jadi, wajar bila yang timbul kemudian adalah rona redup kehidupan, sementara cahaya sinar terang warna asa dan cita ilmu tenggelam.
Menilik kembali pada orientasi, yang jelas ada dua orientasi. Pertama orientasi kedatangan dan kedua adalah orientasi kepulangan. Orientasi kepulangan itu masih nanti, yang nyata sekarang adalah kita sedang menjalani orientasi pertama; kedatangan. Yang seharusnya dilakukan seseorang ketika sudah mendapatkan apa yang diinginkan adalah memaksimalkan segala daya, upaya, potensi dan semua kemapuan untuk mencari bekal kepulangan. Tapi nyata kiasan apa dirasa tidak seindah apa yang dibayangkan.
Berkaca pada realita, orientasi kepulangan adalah hal yang sangat didamba, apalagi jika berhasil dengan menggondol predikat memuaskan. Coba korelasikan, kira-kira apa yang terjadi bila proses pertama sudah tidak benar, yang pasti, hukum kausalitas juga akan bicara lain pada proses kedua. Bilapun seorang intelek tapi inteleknya pelacur, maka medan kepulangan akan bertambah hancur mumur karena ramuan inteleknya bercampur baur antara yang haq dan bathil, hitam dan putih, nur dan dhalam serta keihkhlasan dan pelampiasan. Tak salah dan berlebihan bila seharusnya para pelacur intelek ini disingkirkan, bila perlu dibina dan dibinasakan sekalian. Sebab pelacur intelek masuk kategori ulama su’.
Sedari itu, maka kita harus benar-benar bisa memposisikan diri pada posisi yang benar, lurus dan selaras dengan koridor nilai standar normatif yang berlaku serta diakui oleh semua kalangan. Perbuatan lacur sudah sewajarnya, bahkan harus, dihindari, dan perbuatan mesum dijauhi. Tidak usah berdalih ta’aruf dan tafahum sebagai muqadimah. Semua tidak harus ada muqadimah-nya. Lagian yang demikian itukan termasuk mubram bukan mu’alaq. Yang seperti itu tanpa diberi pembukaanpun dengan sendirinya pasti akan datang dan bisa sendiri. Satu lagi yang mesti dipahami, “tak ada jaminan kepastian akan hakikat kepemilikan terhadap seseorang, karena memiliki dan tak memilki adalah kata sepadan dan semua berhak memilih antara keduanya,” termasuk pembaca. Sekarang semuanya terserah pada kita, mau pilih tetap jadi pelacur intelek berikut akibatnya atau yang shalih-shalih saja berikut akibatnya pula? Terserah Anda. WalLâhu a’lam |
Read more...
posted by wahyu pena @ 12:08 PM  |
|
|
|
|
| DARI 'ILMU ARAB MENUJU ADAB ARAB; Telisik Sejarah Asal Kalimat |
Oleh; Wahyu Pena
Mukadimah Bahasa sebagai komunikasi aktif baik dalam dialog satu arah maupun dua arah adalah medium untuk menyampaikan maksud tergerak dari sebuah keinginan. Ia adalah simbol-simbol makna. Tanda dari rasa yang tersembunyi. Dan alamat setiap tujuan. Bahasa lahir dari interaksi sosial. Ia merupakan penjelmaan yang lahir dan terlahirkan dari kontak aksi dan reaksi inten yang berlangsung dari waktu ke waktu. Bahasa adalah anak zaman yang muncul dengan varian dan tipologi. Ia alamat serta alat komunikasi di dalam komunitas tertentu, tak salah apabila ditemui perbedaan penggunaan simbol bahasa dalam sebuah komunitas dengan komunitas lain. Dan bahasan bahasa inilah yang menjadi kandungan serta isi dari adab itu sendiri. Sebab, bagaimanapun, adab dalam artian sastra adalah bagian tak terpisahkan dari bahasa itu sendiri.
Pendapat yang seperti ini diamini oleh Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono selaku presiden sastra Indonesia yang juga mantan dekan fakultas sastra Universtas Indonesia, kini berubah menjadi fakultas budaya, mendefinisikan sastra sebagai sebuah kegiatan berbahasa. Dia menyebutkan bahwa sastra Indonesia adalah sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Sastra Jepang adalah sastra yang ditulis dalam bahasa Jepang, begitu seterusnya. Begitu juga dengan sastra atau adab arab.
Dari pemahan inilah dapat disimpulkan bahwa adab adalah kegiatan "berbahasa" dari setiap komunitas sosial tertentu dan dalam lingkup geografis tertentu. Meskipun ada yang berpendapat bahwa sastra adalah adalah pencerminan segala apa yang berada dalam sanubari manusia. Tiap hasil sastra sebenarnya tak lain dan tak bukan melainkan sebuah petunjuk dari sesuatu yang berada dalam lubuk hati manusia. Tiap sajak pada hakekatnya adalah perwujudan keinginan, pengharapan, khayalan, dan idam-idaman semua umat manusia. Tapi meski demikian pendapat yang kedua ini tidak merubah makna dan definisi sastra seperti definisi yang diungkapkan oleh Supardi.
Pendapat yang senada juga diungkapkan oleh Jalal Shabir Hijazi, dia mendefinisikan sastra sebagai ekspresi yang indah, muncul dari nilai tertentu yang lahir dari kedalaman hati seorang sastrawan sebagai sebuah hasil penggambaran terhadap potret kehidupan manusia dan alam. Lebih rinci lagi, dalam paparannya dia menyebutkan asas pemahan sastra ada tiga. Pertama, nilai seni sebuah ekspresi yang tidak diekspresikan secara retoris seperti khotbah. Kedua nilai-nilai tertentu yang diangkat oleh seorang sastrawan yang dibarengi dengan usaha penyampaikan dengan bahasa-bahasa yang indah agar memberika "pengaruh" sastra, baik melalui pembacaan dan pendengaran objek sastra. Dan yang ketiga adalah, nilai yang digambarkan oleh sastrawan tadi merupakan "buah" atau "hasil" yang disampaikan seorang sastrawan secara "khusus" dalam memahami fenomena kehidupan manusia dan berbagai peristiwa-peristiwa alam.
Makna Adab Pada Masa Jahiliah Sampai Abad Kesatu
Walaupun penduduk jazirah arab sudah pandai membuat sya'ir-sya'ir dan prosa-prosa, pada awal mulanya definisi adab arab atau biasa disebut dengan sastra arab seperti sekarang ini tidak ada dalam ranah dunia arab. Yang ada ilmu arab. Ini semua tidak lepas dari makna adab itu sendiri. Sebab, makna kalimat adab merupakan sebuah makna kalimat yang berkembang mengikuti perkembangan kehidupan manusia dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi, sampai pada akhirnya ditemukan kesepakatan makna dari para sastrawan adab sebagai sebuah gugusan kata indah yang bertujuan mempengaruhi perasaan dan emosi pembaca dengan cara membaca maupun mendengarkan baik dalam bentuk natsr (prosa) dan sya'ir (puisi).
Dalam pandangan Dr. Syauqi Dhaif, pada awal mulanya adab bermakna undangan makan-makan. Derivasi katanya berasal dari a da ba, yak du bu yang berarti membuat pesta makan. Sedangkan masdar mimnya mak du ba tan yang berarti makanan yang disajikan untuk manusia. Dan seorang yang adib berarti dia adalah orang yang mengundang pesta makan-makan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa makna adab berkutat pada makna hissi atau rasa. Dia kemudian menjelaskan, kalimat adab mengalami perluasan makna. Kalimat yang semula bermakna undangan makan-makan, dalam perjalanannya berubah menjadi makna tahdzibi atau pembudayaan moral. Hal ini sesuai dengan Hadist nabi yang berbunyi, " adabani rabbi fa ahsana takdibi". Sependapat dengan Dr. Syauqi, Nalinu juga menjelaskan bahwa adab yang semula bermakna hissi berubah menjadi makna tahdzibi atau pembudayaan. Bahkan Nalinu lebih jelas lagi, sebab ia menjelenterehkan perubahan bentuk kalimat adab yang semula da a ba menjadi a da ba. Setelah mengalami perubahan dan pergeseran makna seperti diatas, lebih lanjut, ternyata makna kalimat adab ini berubah lagi menjadi makna ta'limi atau pembelajaran. Perubahan ini terjadi pada masa dinasti 'abasiah. Pada masa ini adib berarti yang terpelajar dan muaddibin berarti para pengajar. Lebih spesifiknya lagi, kata muaddibin ini disematkan pada para pengajar putra-putra khalifah. Dengan demikian para pengajar dan penulis kitab serta riwayat-riwayat pada masa ini bisa disebut sebagai muaddibin. Ketidakjelasan ini terjadi karena sampai pada akhir abad ke satu, belum ada batasan-batasan makna adab secara ilmiah yang bisa mewakili definisi adab secara komprehensip, menyeluruh tapi khusus dan tidak memungkinkan adanya anasir-anasir lain yang merecokinya. Tapi meskipun belum mampu berdiri sebagai sebuah cabang disiplin ilmu pengetahuan, gerakan bahasa sudah ada sejak dahulu kala walau hanya terbatas pada pusi dan prosa.
Adab Arab Sebagai Disiplin Ilmu Setelah sekian lama mengalami keburaman makna, maka pada awal abad kedua mulai menemukan titik terang. Pada abad kedua ini kalimat adab sudah tidak lagi disematkan kepada para penulis riwayat dan para penyair yang biasa menggubahknnya menjadi lagu-lagu, melainkan lebih khusus bagi orang yang benar memahami ilmu adab (sastra). Baru apada abad keenam, adab benar-benar mampu berdiri sendiri sebagai disiplin ilmu pengetahuan. Munculnya adab arab sebagai disiplin yang mandiri, lepas dari ilmu arab, ditandai dengan kualifikasi disiplin ilmu-ilmu tertentu yang harus dikuasai oleh seorang adib. Kualifikasi ilmu-ilmu yang harus dikuasai oleh seorang adib ada perbedaan menurut ulama. Imam Zamakhsyari (wafat tahun 537 H.) menyebutkan ada dua, primer dan sekunder. Adapun yang primer adalah bahasa, nahwu, shorof, badi', ma'aniy, bayan, 'urud dan qawafi. Dan yang sekunder adalah imla', insya', tawarikh serta qordu syi'ir. Beliau mendefiniskan ilmu adab sebagai ilmu yang menjaga dari kesalahan di dalam berbicara bahasa arab baik dalam melafalkannya maupun menuliskannya. Sementara itu, Ibnu Al Anbari (588), salah satu akademisi lulusan madrasah nidzamiyah di Bagdad yang didirikan oleh Nidzom Mulk yang wafat pada tahun 485 H., menteri Malik Syah Saljuqi, menyebutkan, ada delapan kualifikasi ilmu yang harus dikuasai oleh seorang adib, yaitu nahwu, shorof, bahasa, qawafi, shun'atu syi'ir, 'urud, akhbaru aab dan ansab. Dan masih banyak lagi. Meski sudah independen, adab arab secara umum bentuknya sama dengan ilmu arab. Hal yang paling membedakan adalah tujuan dari keduannya. Kalau adab arab menurut Ibnu Khaldun ada dua, minimal dan maksimal. Yang minimal adalah, seorang sastrawan, dengan teori adab, mampu membuat syair dan prosa dengan indah, sedangkan yang maksimal adalah mampu memahami kitab Allah dan sunah nabi. Dari sini jelaslah bahwa munculnya adab arab dalam artian sastra arab baru pada masa islam, bukan masa jahiliah. Meskipun adab secara gerakan sudah ada. Namun, secara ilmiah akademiki dan mandiri sebagai cabang dari ilmu pengetahun baru muncul pada masa Islam. Wallahu a'lamu bil shawab. . |
Read more...
posted by wahyu pena @ 11:58 AM  |
|
|
|
|
| Agama Hindu |
Oleh: Wahyu Pena
Sejarah Keagamaan Yang pasti dan tidak bisa dipungkiri bahwa sebuah agama, agama apapun itu, berpijak pada kodrat kejiwaan, yaitu keyakinan. Nah, eksistensi dari sebuah agama itu tergantung seberapa dalam dan seberapa jauh keyakinan akan sebuah agama itu meresapi kejiwaan setiap pengikutnya. Untuk menelusuri dari mana asal timbulnya keyakinan keagamaan dalam sejarah manusia, itu bukan perkara mudah, karena banyak versi dan asumsi yang berkembang oleh banyak kalangan.
Sudah jamak diketahui bahwa ada perbedaan yang sangat curam antarkalangan tentang awal muasal timbulnya keyakinan keagamaan. Setidaknya ada dua golongan yang berseberangan tentang timbulnya keyakinan keagamaan. Dan, titik temu antar golongan itu sampai kini masih dibatasi jurang menganga.
Golongan pertama diwakili oleh para agamawan. Kalangan ini meyakini bahwa agama itu berasal dari kodrat Maha Pencipta yang memberikan bimbingan kepada manu pertama kemudian manu pertama tadi mewariskannya kepada keturunanya. Di hari kemudian, ajaran dan bimbingan Tuhan itu tidak selalu diikuti pengikutnya. Ada sebagian yang masih berada pada jalur dan koridor yang benar dan sebagian lagi menyeleweng serta menyangkal ajaran manu pertama tadi sesuai dengan selera pada suatu tahap masa tertentu. Maka, dari situlah kodrat Maha Pencipta melahirkan pembaharu agama pada suatu tahap masa. Golongan kedua adalah kalangan ilmiah. Kalangan ini menyandarkan pendapat tentang asal mula timbulnya sejarah keagamaan pada para sarjana kejiwaan yang mana pendapat mereka berpijak pada teori Charles Darwin (1809-1992). Di antara ilmuan-ilmuan tadi ialah Sigmund Freud (1859-1939) dan Carl Jung (1875-1961). Freud mengatakan bahwa, “Religion is the expression of neuroses, based on the guilt inherent in repression of infantile sexual fantasies”. “Agama itu adalah penjelmaan gangguan saraf berdasarkan dosa diri yang membenam disebabkan represi terhadap kayal seksuil masa kanak-kanak.”
Tetapi pendapat Freud itu sendiri tidak mencakup dan meliputi keseluruhan agama, melainkan terbatas pada agama tertentu. Selain itu juga, pendapat Freud sukar dipahami jika orang tidak mengenal latar belakang dari pendapatnya. Ia lahir dan hidup dalam lingkungan Kristen. Ia tumbuh dan berkembang dengan doktrin agamawan Kristen yang mengatakan bahwa, kehidupan agama yang paling utama ialah menjadi biarawan dan biarawati tanpa kawin. Freud juga menerima ajaran agamawan dari agama Brahma atau Hindu tentang resi dan pertapaan. Sedangkan Carl jung mengungkapkan bahwa, “Relegion represent the method mankind has developed to live with those fear and frustration which have been built into our subconscious”. “Agama itu merupakan representasi perkembangan tatacara hidup manusia yang disebabkan ketakutan-ketakutan dan kekecewaan-kekecewaan yang membenam kedalam bawah sadar.”
Dari sini dapat disimpulkan, bahwa pola-pola terbentuknya agama dan rasa keberagamaan menurut kalangan ilmuan merupakan refleksi ketakutan, kecemasan, kegalauan, kekeringan rohani, dan keterasingan yang kemudian menciptakan gagasan untuk mencari simbol-simbol keagamaan yang menurut mereka mampu menampung aspirasi mereka dan mengilustrasikan ketuhanan. Maka, tidak bisa disalahkan bila di kemudian hari muncul penyembahan terhadap simbol-simbol yang mereka anggap suci.
Sejarah Agama Hindu
Genap diketahui agama Hindu berasal dari India. Maka, untuk mengetahui sejarah perkembangannya, haruslah dipelajari sejarah perkembangan India meliputi aspek perkembangan penduduk maupun aspek kebudayaannya dari zaman ke zaman. Berdasarkan penelitian usia kitab-kitab Weda, para ahli sampai pada suatu kesimpulan bahwa agama Hindu telah tumbuh dan berkembang sekitar abad 6.000 SM. Sebagai agama tertua, Hindu kemudian berkembang ke berbagai wilayah dunia, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia.
Pada awalnya, agama ini tidak jelas apa namanya. Agama ini hanya diketahui sebagai sebuah ajaran yang menganjurkan kebaktian kepada Tuhan. Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Sofwat Hamid Mubarok, umat Hindu menyembah perwujudan yang ada di alam dunia berikut kekuatannya. Mereka beranggapan, diantara bentuk-bentuk perwujudan itu mengandung kekuatan ketuhanan. Maka dari itu, pada masa umat Hindu terdahulu kita dapati semisal Tuhan langit, bumi, hujan dan lain-lain. Mereka menghadap dan bersembah sujud beribadah serta mengkultuskannya dengan spirit ketundukan, kekhusu’an, rasa penyerahan diri, menyediakan sesajen, meminta pertolongan agar diberi manfaat hidup dan dijauhkan dari segala macam mara bahaya. Sejalan dengan perjalanan waktu, kemudian mereka beranggapan bahwa ada Tuhan di antara Tuhan yang mereka sembah. Mereka menyebutnya dengan “Tuhannya Tuhan”, Tuhan diantara tuhan-tuhan.
Masih menurut Dr. Hamid, setelah adanya pengakuan terhadap adanya satu Tuhan diantara Tuhan maka umat Hindu menyebut Tuhan itu dengan sebutan Brahman. Brahman adalah satu Tuhan akan tetapi pada waktu bersamaan dia juga tiga (Tuhan). Brahma sebagai Tuhan pencipta. Wisnu sebagai Tuhan penjaga yang melestarikan. Dan, Siwa sebagai Tuhan perusak. Dari sini agama Hindu memasuki babakan baru, yang semula menyembah banyak Tuhan beralih kepada agama Tauhid dan Trinitas. Perubahan ini terjadi pada abad ke-8 SM. Dan dari itu semua, maka agama ini bernama Brahma, dari semula tidak bernama dengan sebuah asumsi karena segala ragam macam ritual keagamaan harus berada dibawah kalangan brahimisme, pemuka agama dari kalangan pendeta.
Senada dengan Hamid, Joesoef Sou’yb juga mengamini pendapat Dr. Hamid diatas. Hanya saja, Joesoef lebih terperinci ketimbang Dr. Hamid. Ia menjelaskan bahwa Brahma dalam penafsiran agama Hindu itu adalah wujud azali dalam keadaan diam (unmoving). Pada saat kodratnya bergerak menciptakan alam semesta maka Brahman menjelma menjadi Brahma. Ketika kodratnya yang memilihara dan mengembangkan alam semesta maka Brahman menjelma dalam wujud Wisnu. Semetara, kodratnya yang mengembalikan segala sesuatu pada asalnya, baik melalui pembinasaan dan pemusnahan, maka Brahman menjelma kedalam wujud Siwa. Inilah tiga oknum dari Brahman, yaitu, Brahma, Wisnu, dan Siwa yang dikemudian hari disebut dengan paham Trimurti. Tiga dalam satu, satu dalam tiga.
Paham Trimurti ini kemudian mengalami perkembangan dengan melahirkan pasangan Trishakti. Trishakti merupakan pasangan dari Trimurti. Trishakti itu adalah, Sharasvati sebagai permaisuri Brahma yang melambangkan dewi kebijaksanaan dan pengetahuan, Laksmi, permaisuri Wisnu yang melambangkan dewi kecantikan dan kebahagiaan, serta Parvati sebagai permaisuri Siwa yang melambangkan keberanian dan kegarangan. Dari sini dapat disimpulkan, bahwa agama Hindu pada mulanya bukan bernama agama Hindu, melainkan agama Brahma. Dr. Hamid melihat ada perbedaan pendapat tentang munculnya agama Hindu. Menurutnya, Hindu adalah sebuah agama dengan sistem kepercayaan yang muncul pada abad ke-15 SM.
Agama Hindu baru dikenal sebagai agama dengan sebutan “Hindu” pada tahun 184-72 SM. Ini semua tidak lepas dari perseteruan dinasti Sunga dan Mauria yang masing-masing dinasti mengakui satu kepercayaan dalam kekuasaanya dan mengesampingkan lainya. Agama Hindu atau Brahma terdesak ke anak benua India sewaktu raja Asoka (274-236 SM) dari dinasti Mauria (321-184 SM) mengangkat agama Budha sebagai agama resmi dalam wilayah kekuasaanya. Bahkan mereka juga mengirim misi Budha ke luar India, termasuk ke Syria, Egypt, Cyrene, Makedonia, Epirus di semenanjung Yunani, serta ke Birma dan Srilangka. Munculnya agama Budha, juga tidak luput dari penyelewengan penafsiran tentang Weda sebagai kitab suci agama Brahma dan adanya kelas dalam agama tersebut. Inilah yang memicu, dimana masyarakat awam yang dianggap kelas terhina dalam agama Hindu, berbondong-bondong masuk agama Budha dan Jaina. Baru setelah satu setengah abad kemudian ketika dinasti Mauria ditumbangkan oleh dinasti Sunga (184-72 SM), kembali mengangkat agama Brahma sebagai agama resmi pada wilayah kekuasaanya. Dan setelah itu, Brahma disahkan sebagai agama masyarakat India yang sampai sekarang kita kenal dengan sebutan agama Hindu, agama resmi penduduk India.
Sebagaimana agama lainya, Hindu punya peranan penting dalam peradaban keagamaan dunia serta dalam mempengaruhi tingkah laku atau tabiat manusia. Bahkan, Kristen sebagaimana kita ketahui saat in,i merupakan salah satu agama samawi yang terpengaruh agama Hindu tentang ajaran Trinitasnya. Pun juga ajaran Islam, khususnya dalam penamaan Tuhan dan ritual keagamaan lainnya. Secara ilmiah, terasa sulit untuk menemukan kepastiaan tentang awal mula, atau siapa yang mengajarkan agama Hindu. Ini dikarenakan mereka tidak meyakini akan hakekat kenabian, bahkan mengingkari akan itu. Yang bisa ditelusuri dari jejak sejarah agama ini hanyalah, pada awal mulanya agama ini bisa dikategorikan agama poleteis karena menyembah banyak Tuhan (baca: dewa). Tidak hanya satu. Bahkan, mereka juga termasuk aliran animisme dan dinamisme karena mereka menyembah berhala, pohon dan hal-hal lain yang dianggap punya kekuatan. Ritual agama Hindu layaknya kita ketahui bersama, ialah menyediakan sesajai bagi dewa-dewi yang mereka anggap punya kekuatan. Ada banyak dewa yang mereka yakini. Seperti dewa bumi, matahari, bulan sungai, laut, darat, dan lain sebagainya.
Mereka beranggapan bahwa dari setiap perwujudan yang ada dimuka bumi ini mempunyai kekuatan serta patut untuk disembah dan dimintai pertolongan. Umat Hindu menyembah dewa-dewi mereka dengan tujuan-tujuan tertentu sesuai dewa atau dewi yang mereka yakini. Misalnya, mereka menyembah matahari karena mereka meyakini bahwa matahari adalah sumber kehidupan. Tanpa matahari maka segalanya sesuatu tidak akan berkembang. Dari itu kemudian mereka menyembah matahari, dan masih banyak lagi contoh kasus yang seperti ini.
Hal yang semakin membuat sulit lagi, karena umat Hindu menganggap bahwa turunnya nabi atau rasul sebagai penjelas akan agama mereka dianggap sebagai sesuatu yang tidak berguna. Padahal, jika ada nabi atau rasul, bisa mempermudah penggalian sejarah historigrafi agama ini. Seperti halnya agama-agama samawi lainya; Yahudi, Kristen dan Islam. Begitu mudah bagi siapapun mengakses awal muasal munculnya. Bangunan penolakan mereka terhadap kenabiaan dipengaruhi oleh sebuah keyakinan bahwa apa-apa yang dibawa nabi bisa saja sesuai dengan hukum akal atau sebaliknya. Jika ajaran yang dibawa nabi sesuai dengan hukum akal, maka manusia tidak akan membutuhkan apa-apa yang dibawa nabi, karena itu berarti nabi tidak membawa hal baru bagi manusia. Dengan demikian, maka turunnya nabi merupakan hal yang tidak ada artinya. Sesuatu yang tidak ada artinya berarti tidak sesuai dengan Tuhan yang Maha Kuasa. Maka dari itu, manusia cukup menggunakan akalnya masing-masing dalam mengejawentahkan kehidupan dunia tanpa adanya manusia utusan. Jika ajaran yang dibawa nabi bertentangan dengan akal manusia, maka manusia harus mengedepankan akalnya ketimbangan menjalankan ajaran nabi atau rasul yang bertentangan dengan akalnya, serta menolak apa-apa yang dibawa nabi. Ini semua tidak lepas dari keyakinan mereka yang mengatakan bahwa akal adalah hujjah Tuhan kepada hambanya, dan akal adalah tempat kewajiban, tanggung jawab, pahala dan dosa. Maka dari itu, turunnya nabi terkatagorikan hal yang tidak ada gunanya.
Kitab Suci Agama Hindu
Kitab suci agama hindu terbagi ke dalam dua golongan, Sruti dan Smriti. Kitab Sruti adalah setiap kitab yang berisikan ajaran yang langsung diwahyukan oleh Brahman kepada setiap Resi, yaitu kitab Weda. Dikatakan, bahwa orang-orang Arya lah yang menerima wahyu Weda. Wahyu-wahyu Weda ini tidak turun sekaligus, melainkan dalam jangka waktu yang agak lama, dan juga tidak diwahyukan di satu tempat saja. Penerima wahyu disebut Maha Resi, diterima melalui pendengaran, dan oleh sebab itu wahyu Weda disebut Sruti (Sru artinya pendengaran). Jenjang waktu ketika wahyu-wahyu Weda turun itulah disebut sebagai zaman Weda dan ajaran Weda. Inilah pendapat yang kemudian tersebar ke berbagai penjuru dunia, sebagaimana diamini oleh Imam Sahratsani dalam bukunya al-Milal wa al-Nihal.
Weda berarti pengetahuan. Kitab ini terdiri dari empat Samhita (himpunan); Regweda, Samaweda, Yajurweda, dan Atharwaweda. Regweda berisi 1028 nyanyian keagamaan atau himne dan terdiri dari 10.600 bait. Kitab Regweda ini dianggap sebagai Samhita tertua di antara yang lainya. Samaweda berisikan kumpulan bunyi-bunyian untuk mengiringi nyanyian keagamaan dalam Regweda. Dan, Yajurweda mengandung kumpulan nyanyian keagamaan beserta tatacara upacara-upacara kebaktian. Sedangkan Atharwaweda berisikan himpunan mantra-mantra, guna-guna, nyanyian-nyanyian perkawinan berikut nilai filosofis dan teologisnya. Pada awal mulanya, kitab Weda bukan merupakan himpunan tertulis, melainkan hanya sebuah ajaran yang dianggap suci, bersifat nyanyian keagaman, diwariskan turun-temurun secara hafalan di luar kepala. Adapun pengkodifikasiannya terjadi pada abad ke-5 SM. Sebagian besar kaum terpelajar pengikut agama Hindu belakangan sudah tidak mengakui kodifikasi kitab yang ke-4, Atharwaweda, sebagai kitab suci lagi. Ini disebabkan, karena mereka merasa kitab tersebut sudah terlalu banyak campurtangan dan penyalin-penyalin.
Golongan Smriti adalah setiap tradisi (ucapan, perbuatan, dan tulisan) yang berisi ajaran suci dari Resi atau ajaran dari Acarya ataupun ajaran Avatar seperti halnya Krisna dan lainya. Yang bisa dikategorikan ke dalam bagian Smriti ini adalah Brahmanas, Mahabarata, Bhagvatgita, Ramayana, Purana dan lain sebagainya dengan sebagian keterangan tiap bagiannya sebagaimana berikut.
Brahmanas, kitab ini bermakna hal-hal yang berkaitan dengan Brahma, kodrat universal yang menjadi tumpuan kebaktian. Kitab ini berisi interpretasi ajaran-ajaran keagamaan yang terkandung dalam kodifikasi nyanyian Weda. Interpretasi itu timbul kurang lebih pada tahun 1000 dan 800 SM. Brahmanas itu terdiri dari lima belas bagian. Bagian yang dianggap terpenting ialah Shatapata-brahmana yang berisi petunjuk-petunjuk tentang Purusha-medha (pengorbanan diri) dan berbagai korban lainya. Ciri khusus dari Brahmanas itu adalah adanya wewenang kependetaan dalam tiap upacara kebaktian yang menempati kedudukan paling penting dalam agama Hindu.
Upanishads, kitab ini berisi pembahasan-pembahsan yang bersifat mistik dan filosofis tentang Brahman, kejadian alam semesta, diri, jiwa dan atman serta cara memulangkan atman ke dalam Brahman. Dalam Hindu, kitab ini dianggap menempati kedudukan paling tinggi karena berisikan tentang teologi. Upanishad ini berjumlah 108 buah. Ada yang terdiri dari beberapa ratus kata saja, tapi ada juga yang berjumlah ribuan. Namun demikian, madzhab Shankara-charya cuma mengakui 16 saja yang mereka anggap otentik dan merupakan bagian dari kitab suci. Selebihnya tidak mereka akui karena kelihatan sekali campur tangan para penulis dan penyalin. Meski demikian, madzhab lain tetap mengakui semua, bahkan mereka mengakuinya sebagai sumber keyakinan dan teologi.
Mahabarata, pokok bahasan yang terkandung dalam kitab ini adalah kisah usang tentang perang terbesar dari keluarga Bharata, Pandawa dan Kurawa. Keduanya dilambangkan sebagai kekuatan jahat dan baik. Satu hal yang sangat menonjol dari kitab ialah pembagian masyarakat ke dalam 4 kelas. Padahal dalam kitab sebelumnya pembagian ini tidak ada, bahkan dalam Weda sekalipun. Selain kitab-kitab di atas, masih banyak lagi kitab-kitab suplemen yang merupakan bentuk serta wujud penafsiran dari kitab pokok agama Hindu.
Reinkarnasi
Dalam agama Hindu, ada sebuah keyakinan bahwa manusia akan selalu lahir dan mati berulang-ulang, inilah yang sering disebut dengan istilah reinkarnasi. Reinkarnasi yang dalam bahasa Arab disebut al-tanâsukh, dalam agama Hindu disebut dengan Punarbawa. “Punar” berarti kembali dan “Bawa” berarti lahir, jadi Punarbawa adalah lahir kembali. Dengan demikian, reinkarnasi adalah suatu kepercayaan tentang adanya proses kelahiran yang berulang-ulang atau penitisan. Menurut Dr. Hamid, terjadinya reinkarnasi diakibatkan dua hal;
Pertama, karena akibat perbuatan manusia, baik perbuatan kebajikan atau kejahatan yang ia lakukan semasa hidupnya. Segala bentuk perbuatan manusia pahalanya tidak mereka dapatkan didunia ini, melainkan nanti ketika di Nirwana. Untuk mendapatkan pahala ini maka harus melalui proses reinkarnasi agar manusia dapat benar-benar bersih dari segala macam dosa untuk kemudian bisa mencapai titik “kosong” atau “Brahman”. Semua itu tidak dapat dicapai oleh manusia kecuali melalui proses reinkarnasi. Orang yang baik akan menyatu dengan jasad orang yang baik, dan yang buruk akan menyatu dengan jasad yang buruk pula sampai betul-betul bersih dari segala macam dosa.
Kedua, karena adanya kehendak, keinginan atau tugas manusia yang belum terlaksana di dunia ini. Pendapat pertama Dr. Hamid, senada dengan keyakinan agama Hindu, adanya reinkarnasi dalam ini dikarenakan adanya konsep “Karmapala”, hukum sebab akibat. Menurut keyakinan mereka ada tiga karmapala. Pertama, prarabda karma, yaitu, perbuatan manusia pada masa sekarang dan hasilnya dinikmati sekarang juga. Kedua, kriyamana karma, yakni, perbuatan manusia pada masa sekarang tapi hasilnya baru bisa dinikmati kelak di alam baka. Dan, yang ketiga adalah sancita karma, ialah, perbuatan manusia sekarang ini dimana hasilnya akan ia terima di dunia ini pula pada waktu reinkarnasi atau penitisan.
Abu Zahra, menuturkan, jiwa adalah materi yang kekal tidak akan pernah fana, mengetahui, dan suci selama masih terpisah dengan jasad. Ketika sudah bersatu dengan jasad sebagai baju jiwa, maka berkuranglah kesucian dan pengetahuannya. Keyakinan seperti inilah yang membedakan agama Hindu dengan agama lain. Dalam agama Hindu, jiwa adalah Atman. Atman merupakan percikan Brahman, melalui Atman sebagai percikan Brahman inilah manusia dapat menikmati kehidupan. Akibat Atman, maka kehidupan di dunia ini dan proses menghidupkan Atman akan berpindah-pindah serta berulang-ulang dari satu badan ke badan yang lain melalui reinkarnasi atau penjelmaan kembali sebagai makhluk. Hubungan antara Atman dengan jasad adalah sama halnya badan dengan baju. Kita adalah badan dan jasad adalah baju. Wallahua’lamu bil shawab.
Daftar pustaka
- Joesoef Sou’yb, Agama-Agama Besar Dunia, Pustaka Alhusna, Jakarta cet. I hal, 16-17 1983 - Dr. Shafwat Hamid Mubarok, Mudkhal Lidirasati al Adyan, Darul Kutub, Kairo Mesir, hal.22-23 - http://www.babadbali.com/canangsari/pa-sejarah-perkembangan.htm - Sahrustsani, al-milal wa al nihal, Darul Kutub, Beirut Lebanon, vol. I hal. 708. - Muhammad Abu Zahro, Muqaranatu Al-Adyan Aldiyanat Al-Qadimah, Darul Fikr, Kairo, Th. 1991, Hal. 38 |
Read more...
posted by wahyu pena @ 11:05 AM  |
|
|
|
|
| Inginku2 |
Wahyu Pena
Kemarin, kapan hari, ketika aku buka situs maktabah Waqfeya, tiba-tiba saja aku mendapatkan ide yang begitu saja datang melintas bebas saat halaman adab wal balaghah terbuka, disana tertera satu buah judul buku, wahyu al-qalam. Deg, aku diam sejenak. Mataku menatap layar monitor, agak lama. Aku jadi ingat sesuatu, aku ingat bawha aku selama ini tidak pernah punya nama pena dan sama sekali tidak interest pakai nama pena acapkali saat aku menulis di manapun. Bahkan, dari lima buku yang sudah terbit selalu pakai nama lengkapku, semua. Dulu, aku pernah berasumsi bahwa memakai nama pena itu sama dengan merugikan diri sendiri. Yang dapat untung itu bukan kita, tapi nama samaran kita. Meskipun aku tidak menyangkal jika pada dasarnya terkadang orang pakai nama samaran alias nama pena itu ada beragam motiv yang terselubung. Bisa karena tidak mau terkenal, bisa karena takut jika ada apa-apa setelahnya, lebih-lebih jika tulisannya problematik dan bermasalah. Dan beragam motiv lainya. Namun kini, setelah aku membuka dan menemukan judul buku ini, keinginanku begitu saja membuncah ruah, ada mau menggebu, rasa ingin mampu melelehkan dingin. Aku masih diam sejenak, sambil menghisap rokok. Tidak beranjak. Agak lama. Dan, yes,,!!! Aku ingin memakai nama ini. Tapi masak wahyu al-qalam? Ah, tidak Indonesia banget, pikirku. Aku diam lagi, merangkai dan mengutak-atik nama judul buku ini. Ya..aku dapat, aku dapat. Qalam itukan kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya pena. Yup, aku ingin menamaiku, nama pena, dengan sebutan Wahyu Pena. Ya Allah, dengan nama ini aku ingin menamai diriku, dengan ini aku ingin semua orang mengenalku, dengan ini aku ingin menulis dan terkenal, tidak untuk apa, aku ingin beribadah dan tidak ingin menyembahmu dalam keadaan lapar. Aku berdoa semoga Engkau mengabulkan ya Allah. Aku berkehendak bisa menyampaikan pesan-pesanku melalui nama ini. Aku mau menjadi hulu balang dan menyampaikan setiap titah perintah yang Engkau inginkan. Aku ingin jadi juru bicara-Mu yang handal dengan nama ini. Dan, aku juga ingin menjadi mufasir handal dari setiap jengkal ayat-ayat-Mu melalui nama ini. Ya Allah, wahyukan kepadaku ide dan gagasan-Mu kedalam diriku dan biarkan aku yang menyampaikannya kepada umat-Mu dengan penaku. Biarkan semua orang mengenal-Mu dengan baik melalui aku. Izinkan aku menerjemahkan segala ingin yang Engkau kehendaki dengan bahasa-bahasaku, bahasa manusia. Jadikanlah orang semua bersembah sujud pada-Mu dengan perantara bahasa pena, penaku. Ya Allah, aku menaruh besar harapan terhadap nama ini. Aku ingin nama ini menjadi doa dan perantara-Mu mengilhamiku. Semoga Engkau mengabulkan ya Allah ya Tuhanku. Madrasah, 28-08-07, 12:37.Labels: Diary |
Read more...
posted by wahyu pena @ 10:37 AM  |
|
|
|
|
| About Me |
|

Name: wahyu pena
Home: Bayuwangi, East Java, Indonesia
About Me: Manusia yang berdiri diatas kaki sendiri, menerima pekerjaan sesuai dengan kemampuan, hirau dengan sekitar, tidak ego, suka kerja-kerja yang rapi, dan tidak terlalu suka bergantung kepada orang lain. Aku orangnya welcome kepada siapa saja, asal tidak mendoktrin.
See my complete profile
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| Shoutbox |
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
| Links |
|
|
| Links |
|
|
| Powered by |

|
|