pesanggrahan kata
Thursday, February 8, 2007
Inginku1

Memberantas kepentingan

Oleh: hamid afif

Acapkali setiap aku melakukan tindakan tanpa sebuah tendensi, acapkali juga aku dilabrak para penindak kelakuan yang punya kepentingan. Aku jadi heran, padahal setahuku, bebas kepentingan adalah kriteria ikhlas. Tapi kenapa banyak orang yang tidak bisa lepas dari bebas nilai atau kepentingan? Mereka selalu mengedepankan kepentingan. Setahuku juga, kalau demikian adanya, berarti kepentingan tidak bisa bebas, dikebiri, dibelenggu, dan selalu diatur.

Bila mau mengingat, punya hak apa kita dengan kepentingan, lantas kenapa pula kita selalu bawa-bawa kepentingan? Selama ada “kepentingan,” menurut hematku, tidak akan pernah ada apa itu yang dinamakan stability and balancement society. Banyak sekali penentang orang yang tidak punya kepentingan. Mereka yang selalu mempunyai kepentingan terus menerus menggoyang serta menggerogoti orang yang bebas kepentingan. Dalam skala organisasi terbesar dalam sebuah negara, mereka menamakan diri sebagai oposan. Celakanya, sekarang ini banyak kepentingan yang sudah terkoordinir dan tertata rapih serta mengakar kuat dibenak masing-masing individu. Lebih parah lagi, gerakan-gerakan kepentingan ini sudah menjadi gerakan kepentingan militan yang kuat. Kalau boleh meminjam istilah dalam al-Qur`an, aku lebih suka memakai istilah “at-Ta’awanu ‘ala al-itsmi wa al-‘udwan” bagi para manusia berkepentingan dan “at-Ta’awanu ‘ala al-Birri wa at-Taqwa” bagi para manusia bebas kepentingan.

Nyata dan jelas bahwa ayat yang menerangkan bab ini didahului oleh harfun nahyi, artinya gerakan-gerakan kepentingan yang tidak seirama dengan iringan dan instrumen nada ketetapan-Nya dilarang, pun juga, harus diantisipasi keeksistensiannya. Bukan tidak mungkin personal need yang mula-mula muncul dari benak-benak perorangan kemudian karena adanya persamaan personal need terus berkomplot mendirikan kaki, tiang, cakar dan akar bumi yang kuat, serta bila tiba saatnya, komplotan ini akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Apa yang tidak mungkin di dunia ini?

Ada banyak yang berceloteh, “basmi saja orang-orang seperti itu, biar tidak bikin kotor.” Sepintas lalu, bila kata-kata ini tidak dicerna dengan baik, maka kita akan segera mengatakan “Yes.” Aku yakin, orang-orang yang suka berkata demikian ini pasti memandang hidup dari kacamata fiqih. Sinyalemen kuat yang dihembuskan sudah barang tentu dalam rangka menjaga maqashid syari’ah, tidak salah mereka berpendapat semacam itu. Dalam sadar aku juga berkeyakinan pasti orang semacam ini juga akan gelagapan bila dibenturkan dengan realitas Ketuhanan. Maksudnya begini; meskipun perbuatan yang bermuatan kepentingan itu adalah salah, tapi apa kita juga punya hak untuk menghakimi dengan memakai mizan kemanusiaan kita? Bukankan yang demikian itu terjadi atas semua kehendak-Nya? Lantas, kita punya kepentingan apa demo pada-Nya dengan mendengungkan serta menyitir ayat-ayat-Nya?

Di sini Penulis jadi heran. Di satu sisi orang yang berpandangan dan memandang hidup dari realitas fiqih (menurut hemat penulis) sudah tau benar apa arti ayat. Ayat itu, menurut siapapun pasti bermakna rumzun, simmah, ‘alamah dan amarah. Padanan atau bahasa sasaran yang pas bagi makna tekstual tersebut, dalam leksikal kita sudah barang tentu bermakna tanda, alamat dan simbol. Mereka tidak sadar bahwa yang namanya “tanda” itu bisa salah, bisa juga benar. Mereka tidak sadar pula bahwa anggapan kebenaran yang mereka anut adalah masih dalam lingkaran kebenaran menurut sudut pandang mereka sendiri, bukan menurut-Nya. Jadi, kenapa repot-repot?

Persinggungan kubu free personal need dan unfree personal need, sudah mengemuka sejak pertama kali diciptakannya makhluk berkembang, merasa, dan berfikir yang bernama manusia. kubu unfree personal need diwakili oleh iblis, sedangkan kubu personal need diwakili oleh Khalik.

Pengambilan sampel yang semacam ini, bukan berarti secara eksplisit mengumandangkan serta memilah pendukung menjadi; kelompok unfree didukung oleh iblis, dan free oleh Khalik. Terlalu bodoh kalau pengambilan kesimpulan dikotomi secara taken for granted seperti itu. Karena kalau setuju, berarti setuju pula dengan mereka yang berpandangan bahwa Dia punya kepentingan atas penciptaan makhluk-Nya

Meski kita bukan Khalik, yang tidak punya kepentingan atas makhluk-Nya, tapi setidaknya kita sebisa mungkin menghindari penunggangan kepentingan. Sebab bagaimanapun juga kita tidak pernah melahirkan, merawat dan membesarkan kepentingan. Jadi, biarkanlah kepentingan itu bebas, jangan dibelenggu dan dipenjarakan. Mari kita berantas kepentingan.

Labels:

posted by wahyu pena @ 12:14 PM  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
About Me

Name: wahyu pena
Home: Bayuwangi, East Java, Indonesia
About Me: Manusia yang berdiri diatas kaki sendiri, menerima pekerjaan sesuai dengan kemampuan, hirau dengan sekitar, tidak ego, suka kerja-kerja yang rapi, dan tidak terlalu suka bergantung kepada orang lain. Aku orangnya welcome kepada siapa saja, asal tidak mendoktrin.
See my complete profile
Previous Post
Archives
Shoutbox

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus.

Links
Links
Powered by

BLOGGER