| Monday, March 31, 2008 |
| Progress Country Bases on Generation's Quality |
People come in this world. They do what they do. And there are families. What are families say? Do this, do this and they are successful. You must recognize that being successful is defined not only by a country, not only by a city because every country and every city have different cleaver hood. May be you are success in one country, so you move to another country and in the new country you do not get success as good as in the first country.
Today we are not talking about, what is success in one state but we are talking about, how success becomes true in one nation. We are not talking about, what is yours, but we are talking about, how you become success for your life. For your family, your country and at least for your self.
May be you saw Japan, China, India and also America. How successes are they in this millennium? But once more time I declare that we don't to talk about their success for them but how do they get success it self. The question today, how is success to be real for us? Anybody knows how to get and become success in this life especially for our country? No body knows? Ok, I will answer it. To become success in this life especially for our country is by knowledge.
As a Moslem we knew that Allah almighty said in his holy book al-Qur'an : "يرفع الله الذين امنوا منكم والذين او توا العلم درجا ت" (الأية)
In this verse there are two worlds must be analyzed from their stylistic, syntaxes and their pragmatic. According to Ibnu Jarir al-Thabari in his canonical book jami al bayan fi ta'wili al qur'an that Allah almighty will glorify the person who believes to him and the person who have capability, quantity, and quality of knowledge. The word يرفع here is present tense and it has function continuously or we can say it as almuwadzabah and almudawamah. The subject in this verse is Allah almighty his self. So it verse indicates that Allah will glorify whoever, give a big underline for the world whoever, whoever have capability, capacity and quantity of knowledge. And all of you knew that Allah never deny his promise. As his saying ان الله لا يخلف الميعاد .
May be all of you ask, why knowledge? Is not there another factor to get success except knowledge? Nothing, there is no factor but knowledge could drive us to get success, do you think there is another way to success without knowledge? do you know that good country is built by knowledge. America, China, India, Japan and another progress country are concrete evidences that knowledge drives them to be progress and success. So I convince you all that permanent aspect of progress is knowledge, the only knowledge makes us success, the only knowledge drives us to be happy, the only knowledge brings us to be wealth, the only knowledge drives us to be prosperous, and the only knowledge makes us falling to ruination, it is true that our prophet order us to look for knowledge until China, there are many prophetic saying remind to seek of knowledge, likeاطلب العلم ولو بالصين ……in another side shown اطلب العلم من المهد الى الحد…………………………………………………………….
That prophetic saying shows us how important is knowledge in this world, it is not gossip if Allah said in its verse "ومن يؤتى الحكمة فقد اوتى خيرا كثيرا" . This verse according to what imam Zakiyudin said in his greatest book, he explains to us that knowledge is symbol of glory, knowledge is symbol of goodness, glorious, truth, and the only medium can drive us to win. So, the verse and prophetic saying indicate that there is no progress without knowledge. Which mean seeking knowledge is obligated to all of us. As a moeslim we have same obligation to progress our country by study hard, hard and hard. No more than that.
The next question must be answered is, what knowledge can drive us to be progress? Imam al-Asfahani in his great book Mufradatu Alfadzi al Qur'an said, the knowledge we mean here is many kind of knowledge. Not one knowledge or certain knowledge. Imam al-Asfahani declared to be progress, to be success and to be happy not only by one or certain knowledge. Of course that is a apologize speech if there are someone say we can success in building our country with certain knowledge. Do you believe you can build your county only with particular science? Will you build your house only using part of element? Is it possible? Will you build your house using roof only? Will you build it by wood only? No, that is impossible, that is not building because if we want to make house we must build it completely. And the complete building is by using whole element not certain element. This building house is same with building and developing country, it is nonsense build country with certain science or certain knowledge only.
The last question is how about us as trustee and delegacy here? Did we do something positive for our country? Or we are so busy with friendster, did we stir with game playing, are we so busy with any activities which have not correlation with our study and support it? Did you always forget to study as high level in our priority? Did you always fulfill your whole day by seeking science or you looked down it and in the end of your exam, when the grade of value patched on information board you got your self didn't success.
We must aware that we are delegacy of our country, we must conscious that we are trustee of family. So, that is not good attitude if we spend our time as foreign. We must aware that we are here as student. And the obligation of student is looking for science and seeking knowledge and not sleeping. Only knowledge drives us to be happy, only science makes us success. There is no dignity as good as dignity of knowledge. ما اكتسب مكتسب مثل فضل العلم يهدي صا حبه الي هدي او يرده عن ردي وما استقام دينه حتي يستقيم عمله
Don't waste your time, study hard, study hard, hard and hard. And remind it carefully, progress country is based on quality of generation. Be good generation by study hard. Thank you.
M3, 20-02-08 Asrama Damai. |
Read more...
posted by wahyu pena @ 1:25 PM  |
|
|
|
|
| ASKETEISME |
Oleh:Wahyu Pena
Dalam duniat tasawuf ada salah satu istilah yang sangat familiar dalam gendang telinga. Istilah tersebut adalah istilah asketeisme. Asketeisme adalah salah satu cara untuk mencapai ma'rifatullah. Asketeisme adalah salah satu piranti penting dalam mujahadatu al-nafsi manusia untuk menghindarkan diri dari keterperosokan yang lebih jauh pada hal-hal yang berbau keduniaan.
Istilah asketeisme sebenarnya bukan istilah baru dan muncul dari Islam. Istilah asketeisme adalah sebuah istilah yang sudah ada dan sering dilakukan oleh para penganut agama terdahulu. Asketeisme, yang dalam Islam disebut dengan zuhud, adalah manifestasi laku yang dilakukan seseorang sebagai upaya menggapai cintanya. Jika dirunut lebih jauh lagi, sebenarnya laku asketeisme ini lebih banyak diselenggarakan oleh para agamawan dari agama Budha dan para agamawan dari agama Hindu. Asketeisme adalah laku prihatin untuk mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa. Para pendeta pada agama-agama terdahulu, yang mendalami dunia asketeisme, lebih banyak menghabiskan kehidupannya untuk beribadah dan menjadi pelayan masyarakat. Tak sedikit dari mereka, setelah sekian lama mendalami asketeisme, mencapai tingkatan weruh sak durunge winarah. Mereka tahu sebelum sesuatu itu terjadi melalui pembacaan pada tanda-tanda yang mereka lihat menggunakan kejernihan hati yang putih bersih murni dari segala macam kotoran dunia yang penuh angkara murka.
Dalam menjalankan ritual asketeisme ini, diantara mereka ada yang bertapa pada tempat-tempat tertentu, puasa-puasa dan lain-lain. Sejalan dengan kelindan waktu yang terus menggelinding, kemudia muncul pemahaman yang salah dengan menganggap bahwa asketeisme adalah sama sekali meninggalkan dunia dan hanya memikirkan akhirat. Tak salah bila keudian mereka berlebihan dari menjauhkan dunia. Menganggap dunia adalah barang najis yang mengotori mata rantai kehidupan dan akan semakin menjauhkan diri dari Sang Hyang Widhi Wisesa. Sebuah anggapan tak berdasar dan salah kaprah.
Memang, dalam memahami asketeisme, sering sekali ada sebuah pemahaman yang keliru dan melenceng dari makna sebenarnya. Hal ini dikarenakan kurangnya literature yang digunakan sebagai medium pemahamannya. Atau, bisa saja ketidakpahaman dan kesalahan mengartikan asketeisme ini bermula dari pembacaan yang sempit dan hanya mengandalkan pembacaan pada buku-buku tanpa merelease langsung kepada orang yang suka laku dan mendalami dunia asketeisme. Ataupun jika mendasarkan pengetahuan pada orang yang mendalami dunia asketeisme, mungkin orang yang salah.
Menurut Imam al-Jurjani, asketeisme secara etimolgi berarti tidak condong pada sesuatu atau tidak begitu mencintai sesuatu. Tidak bangga dengan apa yang didapatkan dan tidak bersedih ketika kehilangan. Sementara secara terminologi, menurut Abu Bakar Al-Razi, asketeisme bermakna meninggalkan aroma dunia untuk menggapai aroma akhirat. Lebih jelasnya lagi, mengosongkan hati dari kecintaan dan kebencian terhadap apa-apa yang ada dalam genggaman. Definisi secara terminolgi yang tak jauh beda juga diungkapkan oleh Imam Junaid, ia mendefinisikan asketeisme dengan membersihkan hati dari piranti dunia.
Dari definisi ini jelaslah bahwa asketeisme tidak berarti meninggalkan dunia sama sekali. Ia hanyalah permasalahan hati yang tidak terlalu sibuk dengan tetek bengek yang berbau dunia. Dunia tidak menjadikannya silau. Ia mengambil dunia secukupnya sebagai bekal untuk beribadah. Tidak lebih. Ia tidak mengajarkan berlibih-lebihan dalam menyikapi dunia.
Dari sini semakin jelas bahwa asketeisme bukan bermakna menjauhkan dan menghindarkan diri dari dunia sama sekali. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang mengatakan, (لكيلا تأسوا على ما فاتكم ولا تفرحوا بما ءاتكم) yang artinya, "Supaya kamu tidak sedih terhadap apa yang hilang dari kamu dan agar kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikannya kepadamu, (QS. Al-Hadid, ayat 23). Dari ayat ini kita dapat mengambil 'ibrah bahwa asketeisme mengajarkan keseimbangan dalam menyikapi dunia. Tidak berat sebelah. Tidak senang dengan dunia juga tidak benci dengan dunia. Karena kecondongan kepada salah satu diantara rasa senang dan benci akan mendorong seseorang larut terjerumus mengikuti arus pusara perputaran dunia dan akan lupa dengan akhirat.
Pola penyikapan yang seimbang ini, tidak meninggalkan keduniaan sama sekali dan tidak meninggalkan akhirat sama sekali, juga sesuai dengan firman Allah dalam ayat lain yang mengatakan, (واتغ فيما ءاتك الله الدار الأخرة ولاتنس نصيبك من الدنيا), artinya, "Dan carilah apa-apa yang telah dianugerahkan kepadamu untuk kepentingan akhirat akan tetapi jangan lupakan bagianmu dari kenikmatan dunia, (QS. Al-Qashas, ayat 77).
Asketeisme, meski lebih cenderung didengungkan oleh kalangan asketik, tapi bukan berarti asketeisme menjadi laku yang boleh dan hanya dilakukan oleh mereka yang mendalami dunia tasawuf. Ia adalah laku umum dan boleh dilakukan oleh mukmin mana saja. Karena bagaimanapun, nilai dan sandaran laku asketeisme bersumber dari al-Qur'an. Jangan pernah sampai pada simpulan bahwa asketeisme hanya milik kelompok Islam tertentu.Labels: artikel |
Read more...
posted by wahyu pena @ 1:14 PM  |
|
|
|
| Saturday, December 8, 2007 |
| Mozaik Cita, Cinta, dan Kematian |
Oleh; Wahyu Pena
"Pras, yang paling jauh dengan kita di dunia ini adalah masa lampau karena tidak ada kendaraan yang bisa menyampaikan kita kesana, dan yang paling dekat dengan kita di dunia ini adalah mati karena itu pasti." Kata Yasmine dulu, ketika kita pulang sekolah.
Kini, yang berkelebat hanya kenangan silam datang silih berganti mengungkit kisah lama, mengangkat secarik cerita diatas kursi tua sandaran masa lalu. Aku dan kamu, sepasang merpati di awan nan biru menyusur impian.Cinta kita lahir tak terucap, indah tak terpandang. Cinta kita diam tapi berbicara. Hanya kita yang tahu dalam mana rasa itu. Kita bersisian menambat, mengarungi bahtera waktu pada tepian masa berpadu satu. Tak pernah ada yang mampu membelenggu asmara memburu, dan orang-orang hanya mampu menatap tergugu melihat untaian perjalanan cinta kita melaju. Ada yang marah, ada yang benci, ada yang kesal, jengkel dan menatap sinis. Tapi ada juga yang rela dan bahagia, tentunya sedikit, karena mereka tahu siapa kita dan kemana kita akan menambatkan perahu. Namun semua itu dulu, sebuah kisah pada zaman yang telah berlalu meninggalkan getir pada luka membiru, zaman penuh rancu syahdu permainan waktu tempo dulu, dan sesungguhnya kita tak tahu sebenarnya apa yang berlaku.
@@@
Setakat kata dari bibir meloncat, setelah akhirnya dial-dial nomer telpon kupencet. "Halo….Asalamu'alakum…?" "Halo juga…Wa'alaikumsalam…" "Apa kabar Yasmine?" "Hamdulillah baik, kamu?" Ia balik bertanya. "Sama, hamdulillah." Dari kejauhan suara Yasmine terdengar menjawab salamku. Ya, aku suka memanggilnya Yasmine meski nama sebenarnya adalah Maharani, kembaran Maharana. Ia lahir 9 oktober 1983 yang lalu, Ahad kliwon pagi di sebuah pedalaman desa Rambi Agung, Kecamatan Yosowilangun. Desa yang tenang dan dihuni oleh kebanyakan masyarakat Hindu, bagian pojok kepulauan jawa. Tak salah bila namanya berbau sangkerta, bahasa yang banyak digunakan para pemeluk Hindu dan berasal dari India. Namun, meski sudah masuk Islam namanya tetap tidak dirubah, melestarikan dan membudayakan bahasa sangsekerta dan menjaga budaya, katanya. Ia memang tidak seperti kebanyakan muslimah lain, walaupun muslim tidak suka dengan simbol-simbol islami. Ia lebih mementingkan pelaksanaan nilai islami ketimbang hanya sekedar memakai simbol nilai islaminya. Nama salah satunya.
"Ada apa, Pras? Pagi-pagi kok sudah nelpon, tumben." Dia bertanya padaku. Oya, namaku Pras, tepatnya Waluyo Eko Prasetyo, biasa dipanggil Pras. Aku lahir di daerah yang sama dengan dia. Adat dan kebudayaanyapun juga sama. Aku dan dia sama-sama muallaf, tahu pencerahan Islam belum terlalu lama, sekitar empat tahun yang lalu, saat kami baru saja lulus dari Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Lepas SLTP, kami melanjutkan ke Madrasah aliyah Negeri sambil sama-kursus bahasa arab, ingin mengenal serta mendalami agama yang baru kami peluk. Ternyata belajar bahasa arab tidak terlalu sulit bagi kami, karena ketika SLTP kami pernah belajar dan sudah bisa bahasa asing lainya, inggris. Ini yang membuat kami tidak kesulitan memahami kaidah bahasa arab, sebab kaidahnya tidak terlalu berbeda, hanya rumus tenses saja yang menurut kami bedanya agak mencolok, bahasa arab hanya ada dua tenses, lampau dan sedang, sementara bahasa inggris ada enam belas. "Gak ada apa-apa kok, hanya ingin mastikan saja, kamu jadi berangkat apa enggak tahun ini?" "Ya jadilah, masak ga jadi sih, uda satu tahun lagi aku nuggunya. Aku udah ga sabar pengen cepat-cepat kuliah di al-azhar university, talaqi sama syaikh di masjid-masjid, pergi ke toko-toko buku memborong kitab-kitab islamiyah, menghabiskan liburan di maktabah-maktabah, membaca sepuasnya-puasnya. Kan, aku suka baca dan ngaji, tepat dong kalau aku ke Kairo, sana kan lumbungnya ilmu dan kiblatnya ilmu plus peradaban, iya kan?"
Nyaring suaranya masih seperti dulu, semangatnya menggebu. Kalau sudah bicara keinginan dan cita-cita, ia pasti yang mengalahkan aku. Bahkan rencana belajar ke negeri seribu menara ini dia yang mengutarakannya, dulu. Sayang, aku harus duluan berangkat mencari ilmu. Ia masih harus menunggu, setidaknya agar satu tahun biar berlalu. Sebab, dia harus menunggu sang ibu, menemani, dan menyiapkan segala sesuatunya bagi sang ibu. Ibunya mengidap penyakit paru-paru. Walau ada Maharana dan bapaknya yang bisa menggantikan serta mengerjakan tugas-tugas itu, tetap saja posisinya di mata sang bunda tercinta tak tergantikan. Makanya ibunya tak mengizinkan Maharani berangkat kesini tahun lalu. Selain uang biaya dia kesini harus dipakai untuk biaya pengobatan sang ibu. Dan dia rela ditunda keberangkatanya, demi sang ibu. "Iya iya, aku tahu keinginan dan cita-citamu." Kujawab gelegak tanya maharani sebagai ekpresi penghargaan atas semangatnya yang tak pernah luntur. Ia memang wanita hebat, meski hidup dalam kecukupan namun tabiat dan prilakunya tidak sombong dan tidak pernah memandang sebelah kepada teman-teman yang papa. Ia pribadi tak pandang bulu dalam bergaul, ia bisa diterima dimana-mana. Bahkan, setelah masuk Islam ia masih tetap dianggap oleh teman-teman Hindu kita dulu, itu tak lepas dari kepandaian dia dalam bergaul. Dia bisa menjalin keakraban dengan siapa saja meski berlainan keyakinan sekalipun.
Maharani, pribadi seorang gadis yang smart dan punya daya nalar tinggi. Saat kita masih SLTP dia sudah menguasai Weda dengan baik. Bahkan dalam usianya yang masih belia, kelas dua SLTP, ia suda paham dengan baik empat samhita dalam Weda. Dengan baik ia sudah melahap Regweda yang berisi 1028 nyanyian keagamaan atau himne dan terdiri dari 10.600 bait, samhita yang dianggap tertua diantara yang lainya oleh umat Hindu. Selain itu dia juga mampu memahami Samaweda yang beriskan kumpulan bunyi-bunyian untuk mengiringi nyanyian keagamaan dalam Regweda. Begitu pula Yajurweda yang mengandung kumpulan nyanyian keagamaan beserta tatacara uapacara-upacara kebaktian, ia sudah menguasainya pula. Bahkan ia juga sudah paham Atawaweda yang berisikan himpunan mantra-mantra, guna-guna, nyanyian-nyanyian perkawinan berikut nilai filosofis dan teologisnya.
Tidak sampai disitu, lingkungan keluarganya yang merupakan penganut taat Hindu itu tidak hanya menjadikan dia paham dengan baik kitab-kitab sruti, ia juga memahami kitab-kitab smriti semisal Brahmanas yang berisi tentang interpretasi ajaran-ajaran keagamaan yang terkandung dalam kodifikasi nyanyian Weda, Upanishad yang didalamnya terkandung pembahasan-pembahasan yang bersifat mistik dan filosofis tentang Brahman, kejadian alam semesta, diri, jiwa dan atman serta cara memulangkan atman ke dalam Brahman, dan juga Mahabarata yang berisi kisah usang tentang perang antara keluarga Bharata, Kurawa dan Pandawa, serta kitab-kitab lain. Hal yang sulit ditemukan pada diri remaja Hindu lain yang seusianya, termasuk pada diriku. "Cuma Pras...." nadanya tiba berubah agak sedikit iba dan aneh. "Cuma apa, Yasmine?" Selidikku ingin tahu gerangan apa yang mau ia sampaikan. "Ah gak kok, gak jadi deh." Sergahnya seolah ia menyembunyikan sesuatu dariku. "Tapi jadikan ke Kairo-nya?" Lagi, aku bertanya, meyakinkan bahwa ia akan berangkat tahun ini. "Don't worry boy, I'm coming to Cairo, kok. Sure. Tunggu aku disana ya!" seolah ia tahu kekhawatiran yang tersirat dalam tanyaku. "Tenang Pras, segalanya udah kelar kok, paspor uda selesai, visa sudah turun, begitu juga ishal. So, nothing should be worried, kan? He..he..he.." Ia meyakinkanku bahwa ia pasti datang. Senang sekali hati ini. "Ya bukannya khawatir, nada bicara kamu barusan lho kok kayaknya menyiratkan sesuatu. Kalau gak ada apa-apa ya syukurlah, artinya kamu bisa cepat berangkat apalagi semuanya udah kelar." Pagi itu kami membincang kenangan masa silam, menguntai cita-cita masa depan, membahas apa yang dilakukan ketika sudah selesai kelak, membuat rencana-rencana, saling tanya kabar dan lain-lain. Tak terasa waktu terus berlalu, uda seperempat jam kami ngobrol. Kuarahkan cursor mouse komputerku memencet tombol end now pada tampilan Yahoo Mesengger setelah kuucapkan salam penutup dialog. Ku bayar biaya telpon dan aku bergegas pergi. Aku lega, ia akan segera datang, tidak lama lagi.
@@@
Malam itu nuansa Kairo mendung. Dinginnya mengkerutkan pori-pori kulit, hembusan angin gurun menambah seluruh tubuhku menggigil. Kubetulkan selendang shell di leherku untuk mengusir dingin yang merambat. Kususuri trotoar pinggiran jalan menuju arah pulang. Kairo benar-benar dingin. Ini malam yang ke sekian kalinya aku menelpon Maharani, aku selalu menanyakan dan memastikan bahwa ia akan datang. Bahkan tiap bulan selama satu tahun aku selalu menelponnya, selepas beasiswa turun, awal bulan. Kita punya cita-cita besar. Kami ingin keluarga kami masuk Islam. Kami ingin mengajaknya pada naungan keyakinan seperti yang kami yakini. Kami ingin menjadi corong Islam, ingin menjadi agent of change dan pelopor pembaharuan keyakinan. Merubah gaya laten yang sudah turun temurun. Menghapus sesajen di tepi sawah menjelang panen. Mengganti nyanyian narayana dipucuk-pucuk speaker menjadi dendang sholawatan dan nyanyian puji-pujian islami. Kami juga ingin membuang tradisi kenduri dan selamatan yang sudah bertahun-tahun dalam ritual keagamaan sebagai ungkapan sukur kepada Sang Hyang Widi Wisesa menjadi sedekahan dengan untaian kalimah-kalimah thayibah. Dan kami yakin kami bisa, bahkan tidak terlalu sulit karena orang tua kami tidak terlalu hirau dengan perubahan keyakinan kami. Mereka memberi kebebasa memilih dalam beragama. Bahkan niatan melanjutkan sekolah ke luar negeri pun tidak dipermasalahkan. Para tetangga juga toleran, tidak mempermasalahkan kepindahan keyakinan kami. Itu semua tidak lepas dari ajaran Hindu yang tidak kenal sistem dakwah, bagi mereka keyakinan harus muncul dari nurani masing-masing. Selain itu, kita juga punya cinta besar. Meski semuanya tidak pernah terucap, namun kami sama-sama merasakan rasa yang sama dari setiap kesamaan laku dan tindak yang kami perbuat. Tepatnya sudah lama, dulu, bahkan sejak awal kami sama-sama masuk Islam dan meyakininya kuat-kuat. Kami memberi tanpa diminta, mengasihi tanpa pernah berharap.
Sampai di rumah kulepas jaket yang membungkus tubuhku, kugantung di gantungan samping lemari, begitu juga dengan shell merah kesayanganku, serta kaos tanganku. Aku bergegas ke dapur, menyeduh air panas, membuat teh untuk menghangatkan tubuh. Untuk beberapa saat setelah kompor menyala dan meletakan teko berisi penuh diatas kompor aku kembali ke kamar menghidupkan pemanas dan loncat-loncat menghilangkan dingin. Sesaat kemudian aku berkacak pinggang di depan cermin, menampar mukaku berkali-kali dengan tiga jari tanganku masing-masing. Lumayan, dingin sedikit hilang meski wajahku agak sakit. Teman-teman tidak ada yang tahu kelakuanku, mereka sudah terlelap. Maklum sudah jam tiga malam. Selang beberapa menit terdengar air sudah mendidih. Aku kembali ke dapur lagi, ambil gelas, tuangkan teh dan gula secukupnya serta air dari dalam teko.
Aku balik ke kamar bersama satu gelas teh. Aku duduk di tepi matras sambil menutupkan selimut tebal ke badan. "Yes, Aku akan menjemputmu Yasmine!" Kepalan tangan kanankuku kutarik dari atas kebawah didepan mukaku sebagai ekpresi kegembiraan. Maharani akan datang, sebentar lagi. Malam semakin larut dan dingin semakin menggigit, namun aura diwajahku menampakan kegembiraan. Lama-kelamaan tubuhku rebah di atas matras setelah satu gelas teh hangat habis tuntas kuseruput.
@@@
Musim dingin Kairo menyisahakan dingin berkepanjangan. Aku masih sibuk dengan duniaku. Berlayar di pulau kapas. Menggiring kenangan dalam sebuah cerita dunia mimpi. Tiba- tiba.....teteteteteteeetete.............Ada sms masuk. Kubuka Hp Nokia butut tipe 2300 kesayanganku. Aku pencet engel message. Ternyata Maharana. Lamat-lamat aku baca sms dari Maharana. "Pras, mbak Maharani tlh brplng mnghdp-Nya. Paru2x kmbuh dan tdk bs dsmbuhkn krna uda akut." Aku lemas lunglai. "Innalillahi wa innalillahirojiun," lirih suara dari bibirku keluar. Semua milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya. "Ternyata suara iba dan sedikit aneh semalama ini jawabannya," aku hanya membatin. Selamat jalan Maharani. "Meski suaramu menggelegak, ternyata suara iba dan aneh semalam adalah sakit akut dan berujung pada kepergianmu yang sepagi ini."
8-Desember-2007 |
Read more...
posted by wahyu pena @ 8:18 AM  |
|
|
|
| Friday, November 30, 2007 |
| Jangan Kapling Surga Tuhan! |
Oleh; Wahyu Pena
Ke-Bhinneka-an, Ittihad, dan Unity didalamnya pasti terdapat banyak ragam yang berbeda, kemudian karena keragaman tersebut perlu adanya sebuah wadah yag menampung demi kepentingan bersama maka dirumuskanlah suatu ideologi yang mengakomodir semua kepentingan sampai menemui satu titik temu yang tidak saling merugikan satu sama lain. Begitu juga adanya dengan Indonesia ketika merumuskan kata “Ketuhanan Yang Maha Esa” sila pertama dari lima pancasila yang kita kenal. Pemilihan diksi ini dirasa lebih pas serta bisa diterima ketika itu dan lebih menjamin stabilitas negara dari perpecahan yang ada didepan mata.
Perumusan Pancasila bukan ditentukan oleh segelintir orang bodoh yang tidak tahu agama, melainkan dirumuskan oleh orang-orang yang tidak lagi diragukan kredibilitasnya baik dalam beragama, berbangsa, dan bernegara apalagi berpolitik. Maka aneh rasanya bila saat ini ada satu dua orang dan seterusnya yang menghendaki pancasila dirubah sebagai ideologi negara dan mencari ideologi lain. Selain perubahan pancasila sebagai ideologi, ada lagi isu yang tak kalah serunya, yakni perda syariat. Lebih anehnya lagi mayoritas ormas-ormas besar kebingungan ketika harus dibenturkan dengan perihal syariat pada tataran makro dan mikro. Pada tataran makro, ambil saja sample RUU APP rata-rata mereka setuju tapi yang menggelikan adalah ketika pada tataran mikro seperti halnya perda syariat itu sendiri mereka berbondong-bondong menolak.
Menurut hemat penulis, segala perbuatan manusia dalam kontek bernegara yang berkaitan dengan kepercayaan yang dalam hal ini agama tentunya tidak usah di-legal-formal-kan, biarkan agama masing-masing berikut ideologi agama tersebut yang mengatur segala kegiatan yang ada kaitanya dengan keyakinan penganutnya. Sebab ada pemahaman yang harus dan perlu dipahami secara menyeluruh bahwa Indonesia bukanlah agama sebagai negara. Karena pada hakekatnya tak ada agama yang tidak lurus, semua lurus dan bukankah makna agama itu sendiri bila ditilik dari leksikal aslinya, sangsekerta, adalah peraturan yang mengatur manusia agar ”teratur” tidak amburadul. Bahkan kalau mau diteliti lebih jeli lagi antara satu agama dengan yang lain memilki pola aqidah yang hampir sama-kalau tidak boleh dikatakan sama. Misalnya, yang baik itu belum tentu baik menurut-Nya dalam Islam, di Hindu juga ada, rwa bhinneka namanya. Tuhan itu bukan laki-laki dan bukan pula perempuan, serta Tuhan itu selalu bergerak dan bekerja dalam Islam, dalam kontek siwa budha dan taksu di Hindu juga ada. Kalau umat Islam menganut konsep ummatan wahidatan, umat Hindu juga mengakui konsep ini. Satu lagi, di Islam ada istilah da’wah, ternyata umat Hindu juga mengakui konsep ini.Bedanya, da’wah Hindu tidak ditujukan untuk mencari pengikut baru. Dalam dinamika kehidupan ini penulis lebih suka meminjam istilah ‘becik ketitik, olo ketoro’ dalam al-Quran. Jadi, tidak usah mengkapling surga dengan paspor kemunafikan. Surga itu surga tuhan, tidak ada hak kita mengkapling. Toh tendensi religion ideology formality juga tidak bisa menjamin kita bakal masuk surga. Apalagi polisi syariah, polisi adab dan polisi lainya. Bisa apa mereka? Apa mereka sudah merasa sebagai Tuhan yang bisa men-justifikasi perbuatan kemudian menentukan surga dan neraka mana bagi manusia? lha wong mereka sendiri masih manusia dan masih mencari justifikasi pembenaran kemanusiaanya. Kok aneh-aneh. Padahal man’s justification itu lain dengan God’s justification. Sedari itu, selama para pembuat perda syariat dan per per yang lain tidak bisa menjamin kesurgaan kita kelak tidak usah dipikir susah. Buang energi saja. Lebih baik kita berpikir dan berbicara untuk kepentingan yang lebih umum dan manfaatnya lebih besar, tidak hanya sekedar bagi segelintir, segerombolan dan bagi satu agama saja, melainkan untuk agama dan tentunya negara juga. Wallahu a’lam. |
Read more...
posted by wahyu pena @ 12:14 PM  |
|
|
|
|
| Pelacur Intelektual |
Oleh; Wahyu Pena
“Menasehati mungkin gampang sekali, tapi memperbaiki diri itu sulit. Jadi, sebelum ber-amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran, usahakan terlebih dahulu hati juga bersih dari sikap yang tidak mengenakkan itu.”
Kata yang pas untuk menggambarkan kondisi kita sekarang adalah “ada yang tertinggal setelah kehilangan”, merasa ada yang hilang setelah meninggalkan, dan ada ruang hampa setelah kepergian. Sadar atau tidak sadar ini adalah realita. Realita itu sendiri adalah kenyataan dan kenyataan adalah perkara yang berurusan dengan Departemen Ketuhanan. Jadi, mau tidak mau kita harus menikmati kenyataan, bukan hanya sekedar menjalani, karena hidup adalah keniscayaan yang Dia kehendaki. Siapapun tak boleh mengganggu gugat.
Semua pasti sudah paham bahwa kita punya asa berikut cita. Asa dan cita juga harus diupayakan, tidak sekedar direncanakan, dicanangkan, serta ditargetkan. Bohong namanya bila asa dan cita hanya jadi slogan promosi biang keegoan. Kembali pada realita, kita adalah thaifah yang secara sengaja atau tidak sengaja memang telah ditakdirkan untuk mendalami Islam sebagai agama juga sebagai pemahaman (terlepas dari berbagai motif tentunya). Mengingat ini seharusnya kita menebah dada. Apa pasal? karena ternyata, meski bukan dalam bentuk prosentase, asa dan cita tak diimbangi dengan upaya pencapaian yang maksimal. Ada kubangan celah banyak diguna, ada media untuk merajut dan ada pula wahana untuk bersinggungan dengan apa yang dimau. Tapi apa lacut? Banyak sekali para punggawa yang dilepas dengan derai air mata dan cucuran keringat ternyata hanya jadi “pelacur intelek” di lumbung ilmu. Gaung bisa saja datang sendiri, tapi tidak seharusnya gaung digunakan mengoleksi ranum anggur menggiurkan. Dengan begitu asa dan cita yang diusung bukan malah membumbung akan tetapi berkabung karena semaian asa ilmu dicanangkan ternyata butiran khuldi didapatkan. Apa sebab? Karena yang salah adalah para thaifah yang meramu asa dicampur comberan air bah. Jadi, wajar bila yang timbul kemudian adalah rona redup kehidupan, sementara cahaya sinar terang warna asa dan cita ilmu tenggelam.
Menilik kembali pada orientasi, yang jelas ada dua orientasi. Pertama orientasi kedatangan dan kedua adalah orientasi kepulangan. Orientasi kepulangan itu masih nanti, yang nyata sekarang adalah kita sedang menjalani orientasi pertama; kedatangan. Yang seharusnya dilakukan seseorang ketika sudah mendapatkan apa yang diinginkan adalah memaksimalkan segala daya, upaya, potensi dan semua kemapuan untuk mencari bekal kepulangan. Tapi nyata kiasan apa dirasa tidak seindah apa yang dibayangkan.
Berkaca pada realita, orientasi kepulangan adalah hal yang sangat didamba, apalagi jika berhasil dengan menggondol predikat memuaskan. Coba korelasikan, kira-kira apa yang terjadi bila proses pertama sudah tidak benar, yang pasti, hukum kausalitas juga akan bicara lain pada proses kedua. Bilapun seorang intelek tapi inteleknya pelacur, maka medan kepulangan akan bertambah hancur mumur karena ramuan inteleknya bercampur baur antara yang haq dan bathil, hitam dan putih, nur dan dhalam serta keihkhlasan dan pelampiasan. Tak salah dan berlebihan bila seharusnya para pelacur intelek ini disingkirkan, bila perlu dibina dan dibinasakan sekalian. Sebab pelacur intelek masuk kategori ulama su’.
Sedari itu, maka kita harus benar-benar bisa memposisikan diri pada posisi yang benar, lurus dan selaras dengan koridor nilai standar normatif yang berlaku serta diakui oleh semua kalangan. Perbuatan lacur sudah sewajarnya, bahkan harus, dihindari, dan perbuatan mesum dijauhi. Tidak usah berdalih ta’aruf dan tafahum sebagai muqadimah. Semua tidak harus ada muqadimah-nya. Lagian yang demikian itukan termasuk mubram bukan mu’alaq. Yang seperti itu tanpa diberi pembukaanpun dengan sendirinya pasti akan datang dan bisa sendiri. Satu lagi yang mesti dipahami, “tak ada jaminan kepastian akan hakikat kepemilikan terhadap seseorang, karena memiliki dan tak memilki adalah kata sepadan dan semua berhak memilih antara keduanya,” termasuk pembaca. Sekarang semuanya terserah pada kita, mau pilih tetap jadi pelacur intelek berikut akibatnya atau yang shalih-shalih saja berikut akibatnya pula? Terserah Anda. WalLâhu a’lam |
Read more...
posted by wahyu pena @ 12:08 PM  |
|
|
|
|
| DARI 'ILMU ARAB MENUJU ADAB ARAB; Telisik Sejarah Asal Kalimat |
Oleh; Wahyu Pena
Mukadimah Bahasa sebagai komunikasi aktif baik dalam dialog satu arah maupun dua arah adalah medium untuk menyampaikan maksud tergerak dari sebuah keinginan. Ia adalah simbol-simbol makna. Tanda dari rasa yang tersembunyi. Dan alamat setiap tujuan. Bahasa lahir dari interaksi sosial. Ia merupakan penjelmaan yang lahir dan terlahirkan dari kontak aksi dan reaksi inten yang berlangsung dari waktu ke waktu. Bahasa adalah anak zaman yang muncul dengan varian dan tipologi. Ia alamat serta alat komunikasi di dalam komunitas tertentu, tak salah apabila ditemui perbedaan penggunaan simbol bahasa dalam sebuah komunitas dengan komunitas lain. Dan bahasan bahasa inilah yang menjadi kandungan serta isi dari adab itu sendiri. Sebab, bagaimanapun, adab dalam artian sastra adalah bagian tak terpisahkan dari bahasa itu sendiri.
Pendapat yang seperti ini diamini oleh Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono selaku presiden sastra Indonesia yang juga mantan dekan fakultas sastra Universtas Indonesia, kini berubah menjadi fakultas budaya, mendefinisikan sastra sebagai sebuah kegiatan berbahasa. Dia menyebutkan bahwa sastra Indonesia adalah sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Sastra Jepang adalah sastra yang ditulis dalam bahasa Jepang, begitu seterusnya. Begitu juga dengan sastra atau adab arab.
Dari pemahan inilah dapat disimpulkan bahwa adab adalah kegiatan "berbahasa" dari setiap komunitas sosial tertentu dan dalam lingkup geografis tertentu. Meskipun ada yang berpendapat bahwa sastra adalah adalah pencerminan segala apa yang berada dalam sanubari manusia. Tiap hasil sastra sebenarnya tak lain dan tak bukan melainkan sebuah petunjuk dari sesuatu yang berada dalam lubuk hati manusia. Tiap sajak pada hakekatnya adalah perwujudan keinginan, pengharapan, khayalan, dan idam-idaman semua umat manusia. Tapi meski demikian pendapat yang kedua ini tidak merubah makna dan definisi sastra seperti definisi yang diungkapkan oleh Supardi.
Pendapat yang senada juga diungkapkan oleh Jalal Shabir Hijazi, dia mendefinisikan sastra sebagai ekspresi yang indah, muncul dari nilai tertentu yang lahir dari kedalaman hati seorang sastrawan sebagai sebuah hasil penggambaran terhadap potret kehidupan manusia dan alam. Lebih rinci lagi, dalam paparannya dia menyebutkan asas pemahan sastra ada tiga. Pertama, nilai seni sebuah ekspresi yang tidak diekspresikan secara retoris seperti khotbah. Kedua nilai-nilai tertentu yang diangkat oleh seorang sastrawan yang dibarengi dengan usaha penyampaikan dengan bahasa-bahasa yang indah agar memberika "pengaruh" sastra, baik melalui pembacaan dan pendengaran objek sastra. Dan yang ketiga adalah, nilai yang digambarkan oleh sastrawan tadi merupakan "buah" atau "hasil" yang disampaikan seorang sastrawan secara "khusus" dalam memahami fenomena kehidupan manusia dan berbagai peristiwa-peristiwa alam.
Makna Adab Pada Masa Jahiliah Sampai Abad Kesatu
Walaupun penduduk jazirah arab sudah pandai membuat sya'ir-sya'ir dan prosa-prosa, pada awal mulanya definisi adab arab atau biasa disebut dengan sastra arab seperti sekarang ini tidak ada dalam ranah dunia arab. Yang ada ilmu arab. Ini semua tidak lepas dari makna adab itu sendiri. Sebab, makna kalimat adab merupakan sebuah makna kalimat yang berkembang mengikuti perkembangan kehidupan manusia dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi, sampai pada akhirnya ditemukan kesepakatan makna dari para sastrawan adab sebagai sebuah gugusan kata indah yang bertujuan mempengaruhi perasaan dan emosi pembaca dengan cara membaca maupun mendengarkan baik dalam bentuk natsr (prosa) dan sya'ir (puisi).
Dalam pandangan Dr. Syauqi Dhaif, pada awal mulanya adab bermakna undangan makan-makan. Derivasi katanya berasal dari a da ba, yak du bu yang berarti membuat pesta makan. Sedangkan masdar mimnya mak du ba tan yang berarti makanan yang disajikan untuk manusia. Dan seorang yang adib berarti dia adalah orang yang mengundang pesta makan-makan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa makna adab berkutat pada makna hissi atau rasa. Dia kemudian menjelaskan, kalimat adab mengalami perluasan makna. Kalimat yang semula bermakna undangan makan-makan, dalam perjalanannya berubah menjadi makna tahdzibi atau pembudayaan moral. Hal ini sesuai dengan Hadist nabi yang berbunyi, " adabani rabbi fa ahsana takdibi". Sependapat dengan Dr. Syauqi, Nalinu juga menjelaskan bahwa adab yang semula bermakna hissi berubah menjadi makna tahdzibi atau pembudayaan. Bahkan Nalinu lebih jelas lagi, sebab ia menjelenterehkan perubahan bentuk kalimat adab yang semula da a ba menjadi a da ba. Setelah mengalami perubahan dan pergeseran makna seperti diatas, lebih lanjut, ternyata makna kalimat adab ini berubah lagi menjadi makna ta'limi atau pembelajaran. Perubahan ini terjadi pada masa dinasti 'abasiah. Pada masa ini adib berarti yang terpelajar dan muaddibin berarti para pengajar. Lebih spesifiknya lagi, kata muaddibin ini disematkan pada para pengajar putra-putra khalifah. Dengan demikian para pengajar dan penulis kitab serta riwayat-riwayat pada masa ini bisa disebut sebagai muaddibin. Ketidakjelasan ini terjadi karena sampai pada akhir abad ke satu, belum ada batasan-batasan makna adab secara ilmiah yang bisa mewakili definisi adab secara komprehensip, menyeluruh tapi khusus dan tidak memungkinkan adanya anasir-anasir lain yang merecokinya. Tapi meskipun belum mampu berdiri sebagai sebuah cabang disiplin ilmu pengetahuan, gerakan bahasa sudah ada sejak dahulu kala walau hanya terbatas pada pusi dan prosa.
Adab Arab Sebagai Disiplin Ilmu Setelah sekian lama mengalami keburaman makna, maka pada awal abad kedua mulai menemukan titik terang. Pada abad kedua ini kalimat adab sudah tidak lagi disematkan kepada para penulis riwayat dan para penyair yang biasa menggubahknnya menjadi lagu-lagu, melainkan lebih khusus bagi orang yang benar memahami ilmu adab (sastra). Baru apada abad keenam, adab benar-benar mampu berdiri sendiri sebagai disiplin ilmu pengetahuan. Munculnya adab arab sebagai disiplin yang mandiri, lepas dari ilmu arab, ditandai dengan kualifikasi disiplin ilmu-ilmu tertentu yang harus dikuasai oleh seorang adib. Kualifikasi ilmu-ilmu yang harus dikuasai oleh seorang adib ada perbedaan menurut ulama. Imam Zamakhsyari (wafat tahun 537 H.) menyebutkan ada dua, primer dan sekunder. Adapun yang primer adalah bahasa, nahwu, shorof, badi', ma'aniy, bayan, 'urud dan qawafi. Dan yang sekunder adalah imla', insya', tawarikh serta qordu syi'ir. Beliau mendefiniskan ilmu adab sebagai ilmu yang menjaga dari kesalahan di dalam berbicara bahasa arab baik dalam melafalkannya maupun menuliskannya. Sementara itu, Ibnu Al Anbari (588), salah satu akademisi lulusan madrasah nidzamiyah di Bagdad yang didirikan oleh Nidzom Mulk yang wafat pada tahun 485 H., menteri Malik Syah Saljuqi, menyebutkan, ada delapan kualifikasi ilmu yang harus dikuasai oleh seorang adib, yaitu nahwu, shorof, bahasa, qawafi, shun'atu syi'ir, 'urud, akhbaru aab dan ansab. Dan masih banyak lagi. Meski sudah independen, adab arab secara umum bentuknya sama dengan ilmu arab. Hal yang paling membedakan adalah tujuan dari keduannya. Kalau adab arab menurut Ibnu Khaldun ada dua, minimal dan maksimal. Yang minimal adalah, seorang sastrawan, dengan teori adab, mampu membuat syair dan prosa dengan indah, sedangkan yang maksimal adalah mampu memahami kitab Allah dan sunah nabi. Dari sini jelaslah bahwa munculnya adab arab dalam artian sastra arab baru pada masa islam, bukan masa jahiliah. Meskipun adab secara gerakan sudah ada. Namun, secara ilmiah akademiki dan mandiri sebagai cabang dari ilmu pengetahun baru muncul pada masa Islam. Wallahu a'lamu bil shawab. . |
Read more...
posted by wahyu pena @ 11:58 AM  |
|
|
|
|
| Agama Hindu |
Oleh: Wahyu Pena
Sejarah Keagamaan Yang pasti dan tidak bisa dipungkiri bahwa sebuah agama, agama apapun itu, berpijak pada kodrat kejiwaan, yaitu keyakinan. Nah, eksistensi dari sebuah agama itu tergantung seberapa dalam dan seberapa jauh keyakinan akan sebuah agama itu meresapi kejiwaan setiap pengikutnya. Untuk menelusuri dari mana asal timbulnya keyakinan keagamaan dalam sejarah manusia, itu bukan perkara mudah, karena banyak versi dan asumsi yang berkembang oleh banyak kalangan.
Sudah jamak diketahui bahwa ada perbedaan yang sangat curam antarkalangan tentang awal muasal timbulnya keyakinan keagamaan. Setidaknya ada dua golongan yang berseberangan tentang timbulnya keyakinan keagamaan. Dan, titik temu antar golongan itu sampai kini masih dibatasi jurang menganga.
Golongan pertama diwakili oleh para agamawan. Kalangan ini meyakini bahwa agama itu berasal dari kodrat Maha Pencipta yang memberikan bimbingan kepada manu pertama kemudian manu pertama tadi mewariskannya kepada keturunanya. Di hari kemudian, ajaran dan bimbingan Tuhan itu tidak selalu diikuti pengikutnya. Ada sebagian yang masih berada pada jalur dan koridor yang benar dan sebagian lagi menyeleweng serta menyangkal ajaran manu pertama tadi sesuai dengan selera pada suatu tahap masa tertentu. Maka, dari situlah kodrat Maha Pencipta melahirkan pembaharu agama pada suatu tahap masa. Golongan kedua adalah kalangan ilmiah. Kalangan ini menyandarkan pendapat tentang asal mula timbulnya sejarah keagamaan pada para sarjana kejiwaan yang mana pendapat mereka berpijak pada teori Charles Darwin (1809-1992). Di antara ilmuan-ilmuan tadi ialah Sigmund Freud (1859-1939) dan Carl Jung (1875-1961). Freud mengatakan bahwa, “Religion is the expression of neuroses, based on the guilt inherent in repression of infantile sexual fantasies”. “Agama itu adalah penjelmaan gangguan saraf berdasarkan dosa diri yang membenam disebabkan represi terhadap kayal seksuil masa kanak-kanak.”
Tetapi pendapat Freud itu sendiri tidak mencakup dan meliputi keseluruhan agama, melainkan terbatas pada agama tertentu. Selain itu juga, pendapat Freud sukar dipahami jika orang tidak mengenal latar belakang dari pendapatnya. Ia lahir dan hidup dalam lingkungan Kristen. Ia tumbuh dan berkembang dengan doktrin agamawan Kristen yang mengatakan bahwa, kehidupan agama yang paling utama ialah menjadi biarawan dan biarawati tanpa kawin. Freud juga menerima ajaran agamawan dari agama Brahma atau Hindu tentang resi dan pertapaan. Sedangkan Carl jung mengungkapkan bahwa, “Relegion represent the method mankind has developed to live with those fear and frustration which have been built into our subconscious”. “Agama itu merupakan representasi perkembangan tatacara hidup manusia yang disebabkan ketakutan-ketakutan dan kekecewaan-kekecewaan yang membenam kedalam bawah sadar.”
Dari sini dapat disimpulkan, bahwa pola-pola terbentuknya agama dan rasa keberagamaan menurut kalangan ilmuan merupakan refleksi ketakutan, kecemasan, kegalauan, kekeringan rohani, dan keterasingan yang kemudian menciptakan gagasan untuk mencari simbol-simbol keagamaan yang menurut mereka mampu menampung aspirasi mereka dan mengilustrasikan ketuhanan. Maka, tidak bisa disalahkan bila di kemudian hari muncul penyembahan terhadap simbol-simbol yang mereka anggap suci.
Sejarah Agama Hindu
Genap diketahui agama Hindu berasal dari India. Maka, untuk mengetahui sejarah perkembangannya, haruslah dipelajari sejarah perkembangan India meliputi aspek perkembangan penduduk maupun aspek kebudayaannya dari zaman ke zaman. Berdasarkan penelitian usia kitab-kitab Weda, para ahli sampai pada suatu kesimpulan bahwa agama Hindu telah tumbuh dan berkembang sekitar abad 6.000 SM. Sebagai agama tertua, Hindu kemudian berkembang ke berbagai wilayah dunia, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia.
Pada awalnya, agama ini tidak jelas apa namanya. Agama ini hanya diketahui sebagai sebuah ajaran yang menganjurkan kebaktian kepada Tuhan. Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Sofwat Hamid Mubarok, umat Hindu menyembah perwujudan yang ada di alam dunia berikut kekuatannya. Mereka beranggapan, diantara bentuk-bentuk perwujudan itu mengandung kekuatan ketuhanan. Maka dari itu, pada masa umat Hindu terdahulu kita dapati semisal Tuhan langit, bumi, hujan dan lain-lain. Mereka menghadap dan bersembah sujud beribadah serta mengkultuskannya dengan spirit ketundukan, kekhusu’an, rasa penyerahan diri, menyediakan sesajen, meminta pertolongan agar diberi manfaat hidup dan dijauhkan dari segala macam mara bahaya. Sejalan dengan perjalanan waktu, kemudian mereka beranggapan bahwa ada Tuhan di antara Tuhan yang mereka sembah. Mereka menyebutnya dengan “Tuhannya Tuhan”, Tuhan diantara tuhan-tuhan.
Masih menurut Dr. Hamid, setelah adanya pengakuan terhadap adanya satu Tuhan diantara Tuhan maka umat Hindu menyebut Tuhan itu dengan sebutan Brahman. Brahman adalah satu Tuhan akan tetapi pada waktu bersamaan dia juga tiga (Tuhan). Brahma sebagai Tuhan pencipta. Wisnu sebagai Tuhan penjaga yang melestarikan. Dan, Siwa sebagai Tuhan perusak. Dari sini agama Hindu memasuki babakan baru, yang semula menyembah banyak Tuhan beralih kepada agama Tauhid dan Trinitas. Perubahan ini terjadi pada abad ke-8 SM. Dan dari itu semua, maka agama ini bernama Brahma, dari semula tidak bernama dengan sebuah asumsi karena segala ragam macam ritual keagamaan harus berada dibawah kalangan brahimisme, pemuka agama dari kalangan pendeta.
Senada dengan Hamid, Joesoef Sou’yb juga mengamini pendapat Dr. Hamid diatas. Hanya saja, Joesoef lebih terperinci ketimbang Dr. Hamid. Ia menjelaskan bahwa Brahma dalam penafsiran agama Hindu itu adalah wujud azali dalam keadaan diam (unmoving). Pada saat kodratnya bergerak menciptakan alam semesta maka Brahman menjelma menjadi Brahma. Ketika kodratnya yang memilihara dan mengembangkan alam semesta maka Brahman menjelma dalam wujud Wisnu. Semetara, kodratnya yang mengembalikan segala sesuatu pada asalnya, baik melalui pembinasaan dan pemusnahan, maka Brahman menjelma kedalam wujud Siwa. Inilah tiga oknum dari Brahman, yaitu, Brahma, Wisnu, dan Siwa yang dikemudian hari disebut dengan paham Trimurti. Tiga dalam satu, satu dalam tiga.
Paham Trimurti ini kemudian mengalami perkembangan dengan melahirkan pasangan Trishakti. Trishakti merupakan pasangan dari Trimurti. Trishakti itu adalah, Sharasvati sebagai permaisuri Brahma yang melambangkan dewi kebijaksanaan dan pengetahuan, Laksmi, permaisuri Wisnu yang melambangkan dewi kecantikan dan kebahagiaan, serta Parvati sebagai permaisuri Siwa yang melambangkan keberanian dan kegarangan. Dari sini dapat disimpulkan, bahwa agama Hindu pada mulanya bukan bernama agama Hindu, melainkan agama Brahma. Dr. Hamid melihat ada perbedaan pendapat tentang munculnya agama Hindu. Menurutnya, Hindu adalah sebuah agama dengan sistem kepercayaan yang muncul pada abad ke-15 SM.
Agama Hindu baru dikenal sebagai agama dengan sebutan “Hindu” pada tahun 184-72 SM. Ini semua tidak lepas dari perseteruan dinasti Sunga dan Mauria yang masing-masing dinasti mengakui satu kepercayaan dalam kekuasaanya dan mengesampingkan lainya. Agama Hindu atau Brahma terdesak ke anak benua India sewaktu raja Asoka (274-236 SM) dari dinasti Mauria (321-184 SM) mengangkat agama Budha sebagai agama resmi dalam wilayah kekuasaanya. Bahkan mereka juga mengirim misi Budha ke luar India, termasuk ke Syria, Egypt, Cyrene, Makedonia, Epirus di semenanjung Yunani, serta ke Birma dan Srilangka. Munculnya agama Budha, juga tidak luput dari penyelewengan penafsiran tentang Weda sebagai kitab suci agama Brahma dan adanya kelas dalam agama tersebut. Inilah yang memicu, dimana masyarakat awam yang dianggap kelas terhina dalam agama Hindu, berbondong-bondong masuk agama Budha dan Jaina. Baru setelah satu setengah abad kemudian ketika dinasti Mauria ditumbangkan oleh dinasti Sunga (184-72 SM), kembali mengangkat agama Brahma sebagai agama resmi pada wilayah kekuasaanya. Dan setelah itu, Brahma disahkan sebagai agama masyarakat India yang sampai sekarang kita kenal dengan sebutan agama Hindu, agama resmi penduduk India.
Sebagaimana agama lainya, Hindu punya peranan penting dalam peradaban keagamaan dunia serta dalam mempengaruhi tingkah laku atau tabiat manusia. Bahkan, Kristen sebagaimana kita ketahui saat in,i merupakan salah satu agama samawi yang terpengaruh agama Hindu tentang ajaran Trinitasnya. Pun juga ajaran Islam, khususnya dalam penamaan Tuhan dan ritual keagamaan lainnya. Secara ilmiah, terasa sulit untuk menemukan kepastiaan tentang awal mula, atau siapa yang mengajarkan agama Hindu. Ini dikarenakan mereka tidak meyakini akan hakekat kenabian, bahkan mengingkari akan itu. Yang bisa ditelusuri dari jejak sejarah agama ini hanyalah, pada awal mulanya agama ini bisa dikategorikan agama poleteis karena menyembah banyak Tuhan (baca: dewa). Tidak hanya satu. Bahkan, mereka juga termasuk aliran animisme dan dinamisme karena mereka menyembah berhala, pohon dan hal-hal lain yang dianggap punya kekuatan. Ritual agama Hindu layaknya kita ketahui bersama, ialah menyediakan sesajai bagi dewa-dewi yang mereka anggap punya kekuatan. Ada banyak dewa yang mereka yakini. Seperti dewa bumi, matahari, bulan sungai, laut, darat, dan lain sebagainya.
Mereka beranggapan bahwa dari setiap perwujudan yang ada dimuka bumi ini mempunyai kekuatan serta patut untuk disembah dan dimintai pertolongan. Umat Hindu menyembah dewa-dewi mereka dengan tujuan-tujuan tertentu sesuai dewa atau dewi yang mereka yakini. Misalnya, mereka menyembah matahari karena mereka meyakini bahwa matahari adalah sumber kehidupan. Tanpa matahari maka segalanya sesuatu tidak akan berkembang. Dari itu kemudian mereka menyembah matahari, dan masih banyak lagi contoh kasus yang seperti ini.
Hal yang semakin membuat sulit lagi, karena umat Hindu menganggap bahwa turunnya nabi atau rasul sebagai penjelas akan agama mereka dianggap sebagai sesuatu yang tidak berguna. Padahal, jika ada nabi atau rasul, bisa mempermudah penggalian sejarah historigrafi agama ini. Seperti halnya agama-agama samawi lainya; Yahudi, Kristen dan Islam. Begitu mudah bagi siapapun mengakses awal muasal munculnya. Bangunan penolakan mereka terhadap kenabiaan dipengaruhi oleh sebuah keyakinan bahwa apa-apa yang dibawa nabi bisa saja sesuai dengan hukum akal atau sebaliknya. Jika ajaran yang dibawa nabi sesuai dengan hukum akal, maka manusia tidak akan membutuhkan apa-apa yang dibawa nabi, karena itu berarti nabi tidak membawa hal baru bagi manusia. Dengan demikian, maka turunnya nabi merupakan hal yang tidak ada artinya. Sesuatu yang tidak ada artinya berarti tidak sesuai dengan Tuhan yang Maha Kuasa. Maka dari itu, manusia cukup menggunakan akalnya masing-masing dalam mengejawentahkan kehidupan dunia tanpa adanya manusia utusan. Jika ajaran yang dibawa nabi bertentangan dengan akal manusia, maka manusia harus mengedepankan akalnya ketimbangan menjalankan ajaran nabi atau rasul yang bertentangan dengan akalnya, serta menolak apa-apa yang dibawa nabi. Ini semua tidak lepas dari keyakinan mereka yang mengatakan bahwa akal adalah hujjah Tuhan kepada hambanya, dan akal adalah tempat kewajiban, tanggung jawab, pahala dan dosa. Maka dari itu, turunnya nabi terkatagorikan hal yang tidak ada gunanya.
Kitab Suci Agama Hindu
Kitab suci agama hindu terbagi ke dalam dua golongan, Sruti dan Smriti. Kitab Sruti adalah setiap kitab yang berisikan ajaran yang langsung diwahyukan oleh Brahman kepada setiap Resi, yaitu kitab Weda. Dikatakan, bahwa orang-orang Arya lah yang menerima wahyu Weda. Wahyu-wahyu Weda ini tidak turun sekaligus, melainkan dalam jangka waktu yang agak lama, dan juga tidak diwahyukan di satu tempat saja. Penerima wahyu disebut Maha Resi, diterima melalui pendengaran, dan oleh sebab itu wahyu Weda disebut Sruti (Sru artinya pendengaran). Jenjang waktu ketika wahyu-wahyu Weda turun itulah disebut sebagai zaman Weda dan ajaran Weda. Inilah pendapat yang kemudian tersebar ke berbagai penjuru dunia, sebagaimana diamini oleh Imam Sahratsani dalam bukunya al-Milal wa al-Nihal.
Weda berarti pengetahuan. Kitab ini terdiri dari empat Samhita (himpunan); Regweda, Samaweda, Yajurweda, dan Atharwaweda. Regweda berisi 1028 nyanyian keagamaan atau himne dan terdiri dari 10.600 bait. Kitab Regweda ini dianggap sebagai Samhita tertua di antara yang lainya. Samaweda berisikan kumpulan bunyi-bunyian untuk mengiringi nyanyian keagamaan dalam Regweda. Dan, Yajurweda mengandung kumpulan nyanyian keagamaan beserta tatacara upacara-upacara kebaktian. Sedangkan Atharwaweda berisikan himpunan mantra-mantra, guna-guna, nyanyian-nyanyian perkawinan berikut nilai filosofis dan teologisnya. Pada awal mulanya, kitab Weda bukan merupakan himpunan tertulis, melainkan hanya sebuah ajaran yang dianggap suci, bersifat nyanyian keagaman, diwariskan turun-temurun secara hafalan di luar kepala. Adapun pengkodifikasiannya terjadi pada abad ke-5 SM. Sebagian besar kaum terpelajar pengikut agama Hindu belakangan sudah tidak mengakui kodifikasi kitab yang ke-4, Atharwaweda, sebagai kitab suci lagi. Ini disebabkan, karena mereka merasa kitab tersebut sudah terlalu banyak campurtangan dan penyalin-penyalin.
Golongan Smriti adalah setiap tradisi (ucapan, perbuatan, dan tulisan) yang berisi ajaran suci dari Resi atau ajaran dari Acarya ataupun ajaran Avatar seperti halnya Krisna dan lainya. Yang bisa dikategorikan ke dalam bagian Smriti ini adalah Brahmanas, Mahabarata, Bhagvatgita, Ramayana, Purana dan lain sebagainya dengan sebagian keterangan tiap bagiannya sebagaimana berikut.
Brahmanas, kitab ini bermakna hal-hal yang berkaitan dengan Brahma, kodrat universal yang menjadi tumpuan kebaktian. Kitab ini berisi interpretasi ajaran-ajaran keagamaan yang terkandung dalam kodifikasi nyanyian Weda. Interpretasi itu timbul kurang lebih pada tahun 1000 dan 800 SM. Brahmanas itu terdiri dari lima belas bagian. Bagian yang dianggap terpenting ialah Shatapata-brahmana yang berisi petunjuk-petunjuk tentang Purusha-medha (pengorbanan diri) dan berbagai korban lainya. Ciri khusus dari Brahmanas itu adalah adanya wewenang kependetaan dalam tiap upacara kebaktian yang menempati kedudukan paling penting dalam agama Hindu.
Upanishads, kitab ini berisi pembahasan-pembahsan yang bersifat mistik dan filosofis tentang Brahman, kejadian alam semesta, diri, jiwa dan atman serta cara memulangkan atman ke dalam Brahman. Dalam Hindu, kitab ini dianggap menempati kedudukan paling tinggi karena berisikan tentang teologi. Upanishad ini berjumlah 108 buah. Ada yang terdiri dari beberapa ratus kata saja, tapi ada juga yang berjumlah ribuan. Namun demikian, madzhab Shankara-charya cuma mengakui 16 saja yang mereka anggap otentik dan merupakan bagian dari kitab suci. Selebihnya tidak mereka akui karena kelihatan sekali campur tangan para penulis dan penyalin. Meski demikian, madzhab lain tetap mengakui semua, bahkan mereka mengakuinya sebagai sumber keyakinan dan teologi.
Mahabarata, pokok bahasan yang terkandung dalam kitab ini adalah kisah usang tentang perang terbesar dari keluarga Bharata, Pandawa dan Kurawa. Keduanya dilambangkan sebagai kekuatan jahat dan baik. Satu hal yang sangat menonjol dari kitab ialah pembagian masyarakat ke dalam 4 kelas. Padahal dalam kitab sebelumnya pembagian ini tidak ada, bahkan dalam Weda sekalipun. Selain kitab-kitab di atas, masih banyak lagi kitab-kitab suplemen yang merupakan bentuk serta wujud penafsiran dari kitab pokok agama Hindu.
Reinkarnasi
Dalam agama Hindu, ada sebuah keyakinan bahwa manusia akan selalu lahir dan mati berulang-ulang, inilah yang sering disebut dengan istilah reinkarnasi. Reinkarnasi yang dalam bahasa Arab disebut al-tanâsukh, dalam agama Hindu disebut dengan Punarbawa. “Punar” berarti kembali dan “Bawa” berarti lahir, jadi Punarbawa adalah lahir kembali. Dengan demikian, reinkarnasi adalah suatu kepercayaan tentang adanya proses kelahiran yang berulang-ulang atau penitisan. Menurut Dr. Hamid, terjadinya reinkarnasi diakibatkan dua hal;
Pertama, karena akibat perbuatan manusia, baik perbuatan kebajikan atau kejahatan yang ia lakukan semasa hidupnya. Segala bentuk perbuatan manusia pahalanya tidak mereka dapatkan didunia ini, melainkan nanti ketika di Nirwana. Untuk mendapatkan pahala ini maka harus melalui proses reinkarnasi agar manusia dapat benar-benar bersih dari segala macam dosa untuk kemudian bisa mencapai titik “kosong” atau “Brahman”. Semua itu tidak dapat dicapai oleh manusia kecuali melalui proses reinkarnasi. Orang yang baik akan menyatu dengan jasad orang yang baik, dan yang buruk akan menyatu dengan jasad yang buruk pula sampai betul-betul bersih dari segala macam dosa.
Kedua, karena adanya kehendak, keinginan atau tugas manusia yang belum terlaksana di dunia ini. Pendapat pertama Dr. Hamid, senada dengan keyakinan agama Hindu, adanya reinkarnasi dalam ini dikarenakan adanya konsep “Karmapala”, hukum sebab akibat. Menurut keyakinan mereka ada tiga karmapala. Pertama, prarabda karma, yaitu, perbuatan manusia pada masa sekarang dan hasilnya dinikmati sekarang juga. Kedua, kriyamana karma, yakni, perbuatan manusia pada masa sekarang tapi hasilnya baru bisa dinikmati kelak di alam baka. Dan, yang ketiga adalah sancita karma, ialah, perbuatan manusia sekarang ini dimana hasilnya akan ia terima di dunia ini pula pada waktu reinkarnasi atau penitisan.
Abu Zahra, menuturkan, jiwa adalah materi yang kekal tidak akan pernah fana, mengetahui, dan suci selama masih terpisah dengan jasad. Ketika sudah bersatu dengan jasad sebagai baju jiwa, maka berkuranglah kesucian dan pengetahuannya. Keyakinan seperti inilah yang membedakan agama Hindu dengan agama lain. Dalam agama Hindu, jiwa adalah Atman. Atman merupakan percikan Brahman, melalui Atman sebagai percikan Brahman inilah manusia dapat menikmati kehidupan. Akibat Atman, maka kehidupan di dunia ini dan proses menghidupkan Atman akan berpindah-pindah serta berulang-ulang dari satu badan ke badan yang lain melalui reinkarnasi atau penjelmaan kembali sebagai makhluk. Hubungan antara Atman dengan jasad adalah sama halnya badan dengan baju. Kita adalah badan dan jasad adalah baju. Wallahua’lamu bil shawab.
Daftar pustaka
- Joesoef Sou’yb, Agama-Agama Besar Dunia, Pustaka Alhusna, Jakarta cet. I hal, 16-17 1983 - Dr. Shafwat Hamid Mubarok, Mudkhal Lidirasati al Adyan, Darul Kutub, Kairo Mesir, hal.22-23 - http://www.babadbali.com/canangsari/pa-sejarah-perkembangan.htm - Sahrustsani, al-milal wa al nihal, Darul Kutub, Beirut Lebanon, vol. I hal. 708. - Muhammad Abu Zahro, Muqaranatu Al-Adyan Aldiyanat Al-Qadimah, Darul Fikr, Kairo, Th. 1991, Hal. 38 |
Read more...
posted by wahyu pena @ 11:05 AM  |
|
|
|
|
| About Me |
|

Name: wahyu pena
Home: Bayuwangi, East Java, Indonesia
About Me: Manusia yang berdiri diatas kaki sendiri, menerima pekerjaan sesuai dengan kemampuan, hirau dengan sekitar, tidak ego, suka kerja-kerja yang rapi, dan tidak terlalu suka bergantung kepada orang lain. Aku orangnya welcome kepada siapa saja, asal tidak mendoktrin.
See my complete profile
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| Shoutbox |
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
| Links |
|
|
| Links |
|
|
| Powered by |

|
|